Bumi Milik Kinan “1”

Menjadi seorang istri muda dari pegawai negeri sipil yang juga masih muda di salah satu ladang berlimpah di negeri ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Kinan. Jangankan menjadi istri dari seorang PNS, nikah di usia 21 tahun saja tidak pernah terfikirkan sampai pada akhirnya 5 tahun sebelum menginjak umur 21 tahun Kinan menyadari bahwa ia sudah menemukan pasangan hidupnya.

**

“sampai kapan mau pacaran sama bayu, Kinan? mamah bahkan udah pernah bilang sama kamu dari sebelum kamu pacaran sama dia. Dia nggak cocok sama kamu! Dia bukan laki-laki baik!kamu itu masih kecil, belum saatnya juga pacaran!” bentak mamah Kinan di waktu yang seharusnya Kinan dan keluarganya sudah tidur nyenyak, jam 2 pagi. “kinan yang pacaran mah, kinan yang tau dia baik atau nggak buat kinan!” balas kinan sambil menghempaskan dirinya di sofa ruang tamu. Kinan menyesal sudah memberitahu mamahnya bahwa ia akhirnya menjalin hubungan dengan anak dari teman lama mamahnya. Yang kinan tahu sekarang ia sangat mengantuk dan ingin cepat-cepat tidur nyenyak di kasur kesayangannya. “terserah, pokoknya kalau kamu nganggep mamah ini ibu kamu besok juga putusin bayu!” ‘brak’ pintu kamar dibanting mamah kinan ketika masuk ke dalamnya, dengan langkah sempoyongan kinan pun masuk ke dalam kamarnya dan menangis dalam diam. Bukan, bukan karena mamahnya menyuruh ia putus, melainkan karena ia tahu ia memang harus memutuskan laki-laki yang sebenarnya tidak benar-benar menyayanginya namun sangat Kinan sayangi itu.

Seandainya kamu tau bay, betapa susah mempertahankan kamu, betapa banyak air mata yang udah aku keluarkan untuk kamu tapi tidak sedikitpun aku ada di hatimu. Seandainya kamu tahu bay, bahwa aku benar benar sayang kamu, menjalin hubungan dengan beberapa orang sebelum kamu tidak benar-benar aku menyayangi mereka, Cuma kamu.. kamu yang ada di hati aku bay. Seandainya kamu tahu bay, betapa luka hati aku saat aku ngeliat foto perempuan itu masih ada di dompetmu, di handphone-mu dan di hati-mu..

Kinan pun tertidur dalam tangis yang entah sampai kapan akan berhenti..

**

Bumi berjalan pelan-pelan menuju kelasnya, jam yang sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi cukup menjelaskan bahwa ia sudah terlambat, untung saja satpam sekolah sudah menjadi teman karibnya sehingga ia tidak perlu susah-susah memarkirkan motor Ninja-nya di parkiran sekolah. “permisi bu, maaf saya telat hehe” celetuk Bumi sambil garuk garuk kepala di depan pintu yang sontak membuat seisi kelas tertawa “telat lagi Bumi? Yaudah sana duduk, udah dihukum kan sama pak Edi di bawah tadi?” kata Bu Eva sambil meneruskan menulis di papan tulis tidak sedikitpun menengok ke Bumi yang sedang senyum-senyum jail. “oh udah bu, lari keliling lapangan” ujar Bumi bohong , “yaudah sana duduk, dasar kamu Bumi, kalau kaya gitu terus susah nanti dapat pacarnya” lanjut Bu Eva yang tetap tidak menggerakkan kepalanya sedikitpun dari papa tulis. “hehe, iya bu nanti juga pacar nyamperin sendiri” balas Bumi sambil berjalan ke tempat duduknya yang sontak menimbulkan keriuhan di kelasnya. Kinan sendiri masih diam di kursinya, mencoret-coret buku catatannya tanpa ikut tertawa bersama teman lainnya akibat kebodohan Bumi. Bumi diam, melirik sekilas ke arah meja di sebelah kirinya dan bergumam sendiri “Kinan, kamu kenapa?”

Sudah 30 menit Bumi berdiri di depan kelas 10-6, dia tidak sendiri disana melainkan ditemani seorang perempuan cantik adik kelasnya yang sekarang berstatus sebagai pacarnya, tapi tidak semenitpun jiwa Bumi berada di sana, yang Bumi tahu ia sedang memperhatikan perempuan manis di lantai 2 yang sedang melamun di balkon depan kelas 11 IPA 2. Sudah 30 menit Sasha mengoceh tentang pengalamannya menonton konser Korea yang ditontonnya kemarin di JCC, selama itu pula Bumi hanya memperhatikan perempuan di lantai 2 itu dan bergumam di hati “Kinan, kamu kenapa?”. “Beb, kamu sakit? Kamu ko diem aja sih ih, dengerin aku nggak sih?” rajuk Sasha saat dia menyadari Bumi tidak menjawab pertanyaannya yang menanyakan apa band korea kesukaan Bumi “Hah, apa? Aku nggak sakit ko beb” jawab Bumi sekenanya, “terus kamu kenapa? Kenapa diem aja?” , “aku Cuma nggak ngerti sama omongan kamu beb, aku kan udah bilang nggak suka band-band Korea” , “tapi kamu nggak marah kan sama aku? Nggak kesel kan?”, “nggak beb, aku Cuma bingung mau komentar apa” ucap Bumi sambil mengelus ngelus kepala Sasha. Inilah hebatnya Bumi, tampangnya yang jauh dari kata ‘Ganteng’ dan posturnya yang jauh dari kata ‘tinggi’ tetap bisa memiliki pacar yang cantik dan baik seperti Sasha. Walau begitu, Bumi sadar ia tidak sepenuhnya menyayangi Sasha, Sasha yang cantik Sasha yang baik Sasha yang populer tetap tidak bisa mengisi hatinya. Bagi Bumi, satu-satunya perempuan yang bisa bikin ia betah lama-lama memandanginya dan perempuan yang bisa bikin ia betah untuk mengimajinasikannya hanya perempuan itu, perempuan yang duduk di balkon depan kelas 11 IPA 2.

**

“Bayu kamu kemana, Bayu please hubungin aku sekarang”

Pesan singkat itu dikirim dari 20 menit yang lalu, tepatnya setelah Kinan 10 menit berdiri di balkon depan kelasnya 11 IPA 2 dan sudah 30 menit Kinan berdiri disitu menanti pesan balasan dari Bayu atau bahkan telepon dari Bayu. Kinan lapar, dan semakin lapar ketika ia menengok ke lantai 3 di sebrangnya sedang ada Bumi yang lagi mengelus-ngelus kepala Sasha dengan romantisnya “ah, seandainya Bayu melakukan hal yang sama ke gue, seandainya Bayu berani untuk mempublishkan hubungan kita di depan teman-temannya saat dia masih sekolah dulu di saat gue kelas 1 dan dia kelas 3” ucap Kinan sambil terus memperhatikan Bumi di atas sana. Sudah 30 menit, dan belum ada tanda-tanda Bayu akan menghubunginya, Kinan menyerah, ia masuk ke dalam kelas dalam keadaan kecewa, menurutnya tidak ada yang lebih menyedihkan daripada menjalin hubungan selama setahun dengan laki-laki yang tidak menyayanginya sama sekali.

“Nan, lo harus bisa ngendaliin Bumi. Gue yakin cuma lo yang bisa, Pak Edi udah ngancem gue bakal ngeluarin Bumi dari OSIS kalau kita nggak bisa bikin dia berubah. Please Nan” Esha memburu Kinan yang sedang menuju perpustakaan. Kinan, perempuan berprestasi di sekolahnya, peringkat 1 di kelas 11 IPA 2, mempunyai jabatan cukup bergengsi di OSIS SMA dan Kinan yang terkenal sangat disiplin juga galak harus mengendalikan Bumi?? Bumi yang berantakan, Bumi yang pernah mengikuti olimpiade matematika tapi nyaris menduduki peringkat terakhir di kelas, Bumi yang sepatunya selalu diinjak, Bumi yang celananya robek-robek, Bumi yang selalu telat datang ke sekolah?? Membayangkannya saja Kinan sudah males, Bumi memang baik, sangat baik bahkan di antara teman laki-laki lainnya tapi kelakuan minus lainnya membuat Kinan entah kenapa enggan mengurusinya. Masalah dia dengan Bayu saja sudah membuatnya males ke sekolah apalagi disuruh mengendalikan Bayu. “gue cape sha, lo tau kan Bumi itu susah dikasih tau? Inget kan waktu gue nyuruh dia benerin sepatunya? dia malah cengengesan nggak jelas sha! Inget waktu Pak Edi marahin dia depan anak-anak? Dia malah senyum senyum sha ! aduh nggak deh, masih banyak yang harus gue urusin selain dia sha!” Kinan menghentikan langkahnya dan menatap Ketua OSIS didepannya dengan pandangan lurus. “please Nan” Esha sudah kehabisan kata-kata, wibawanya yang cukup tinggi karena jabatannya sebagai Ketua OSIS bahkan luntur di hadapan Kinan demi meminta Kinan untuk bisa membantunya mengendalikan Bumi. Bagaimanapun juga, OSIS yang dibentuknya adalah keluarga kedua Esha, Esha tidak ingin keluarganya tercerai berai apalagi sampai ada yang keluar. Kinan tidak tahan melihat Esha yang terus menerus mendesaknya, bagaimanapun juga Kinan pun tidak ingin OSIS angkatannya hancur, terpilih bareng-bareng sebagai pengurus OSIS keluar pun harus berbarengan. “oke, gue ambil ali Bumi” ucap Kinan sambil membuka pintu perpustakaan di depannya. “YES! Thankyou Nan!” teriak Esha sambil berlari ke kantin. Sementara itu, Kinan tidak yakin dengan apa yang diucapkannya barusan.

Sudah sebulan berlalu, Bayu seakan sudah hilang dari hidupnya. Mamah Kinan pun sudah berhenti mengoceh tentang hubungannya dengan Bayu. Hari-hari Kinan kini terisi dengan 1 program kerja dihadapannya, yaitu sebagai sekretaris di acara pentas seni dan hampir 2 minggu ini Kinan selalu ada di jok belakang Ninja yang dikemudikan Bumi, bukan karena mereka kini bersahabat, melainkan karena mereka dipasangkan oleh anak-anak OSIS lainnya untuk bisa mengurus sponsorship ke perusahaan-perusahaan di Jakarta. Walaupun di kepanitiaan Kinan menjabat sebagai sekretaris menurut anak-anak OSIS tersebut Kinan dianggap luwes dalam berbicara ke perusahaan sedangkan Bumi dikenal bisa melobby dan basa-basi.

**

Maka jadilah mereka setiap pulang sekolah ke perusahaan-perusahaan yang dituju, kalau sudah selesai urusannya Bumi akan mengajak Kinan makan dan mengobrol banyak tentang Bumi, tentang Kinan atau tentang teman-teman mereka. Bumi sangat menyukai keadaan ini, ia berharap selanjutnya akan terus seperti ini, berhadapan langsung dengan Kinan mengobrol banyak dan mengetahui lebih banyak lagi tentang Kinan. Bumi sendiri sudah mulai menjauhkan diri dari Sasha, ia tahu betul Sasha sudah tidak nyaman dengan dirinya dan ia tahu Sasha sedang dekat dengan laki-laki lain. Bumi tidak marah, Bumi pun tidak kecewa, ia sadar Sasha begitu karena ia yang memulai dan Bumi pun belum meminta putus dengan Sasha sampai Sasha yang akan memutuskan dirinya.

Sampai kapan Kinan, sampaikapan gue harus nutupin perasaan gue? Sampai kapan gue harus mengagumi lo secara diam diam. Kalau dihitung sejak pertama kali gue ketemu sama lo, itu artinya udah 5 bulan gue memendam rasa ini sama lo. Rasa yang membuat gue yakin kalau elo masa depan gue walaupun Bayu masih mengisi hati lo. Nan, seandainya ya lo lebih dulu kenal gue dibanding Bayu apa saat ini gue yang lagi duduk di hadapan lo berstatus pacar lo?please jangan jauh dari gue

“jadi lo lagi break ceritanya?” Kinan mengagetkan Bumi yang lagi melamun “Hah, nggak. Eh nggak tau juga sih hubungan gue lagi nggak jelas gini hehe kenapa emang?” . “nggak apa-apa, Cuma jangan digantungin dong, kasian loh anak orang” jawab Kinan sambil mengaduk ngaduk Green tea float kesukaannya. “gue nggak ngegantungin nan, gue Cuma nggak ngerti harus ngapain. Sasha itu perempuan yang hampir perfect di mata gue tapi bukan di hati gue” ujar Bumi sendu “alaaaaahhhh lo sok melankolis deh Bum hahaha” reflek Kinan melempar tissue yang dipegangnya ke muka Bumi “Hahaha najis banget ye” , “digantungin itu nggak enak Bum, udah hampir 2 bulan gue digantungin padahal udh 2 bulan ini juga gue pertahanin dia di depan nyokap” lanjut Kinan sambil tersenyum pait.oh,,jadi karna itu Kinan sering melamun.. “eh sorry nggak maksud unutuk bahas Nan” Bumi merasa bersalah “haha nggak ko, emang mau cerita aja” Kinan berdiri dari tempat duduknya “eh lo mau kemana” tanya Bumi “mau ke toilet, mau ikut?” ledek Kinan. “ya nggak lah, gila lo”balas Bumi. Kinan menjauh dari tempat duduk mereka, badannya yang sedikit lebih pendek dari Bumi, rambutnya yang ikal dan pirang, hidungnya yang mancung dan kulitnya yang sawo matang itu yang membuat Bumi menoleh untuk pertama kalinya. Bukan, bukan karena cantik, bahkan karena kesederhanaannya dalamn berpakaian namun tetap enak dilihat. Kinan yang berprestasi dan tidak neko-neko seperti teman Bumi lainnya pun semakin menguatkan Bumi untuk jatuh cinta padanya walau harus dipendam setelah sekian lama. “Bum, pulang yuk” Kinan tiba-tiba datang sambil mengambil tasnya “Hah, ko tiba-tiba Nan?” Bumi keheranan sambil mengejar Kinan yang sudah berjalan cepat di depannya “Bayu ngehubungin gue Bum, setelah dua bulan dia nggak ngehubungin gue Bum sekarang dia ngehubungin gueeee” seru Kinan sambil masuk ke dalam mobil Bumi. What?! Ngehubungin? Oh pleasee Tuhan jangan sampai hubungan mereka membaik.. “lo mau ketemu dia sekarang gitu maksud lo?” tanya Bumi pelan-pelan “iya Bum ! dia bilang dia minta maaf !” Kinan menjawab pertanyaan Bumi dengan semangat “oh” jawab Bumi pelan-pelan bahkan nyaris tidak terdengar.

Bumi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di satu sisi ia ingin memperlambat laju mobilnya agar semakin lama kesempatan Kinan untuk bertemu dengan Bayu tapi di satu sisi Bumi senang kalau lihat Kinan senang juga. Mungkin ini yang namanya ikhlas kali ya pikir Bumi.

Bumi mengehentikan mobilnya di depan rumah yang menurut Kinan itu adalah rumah Bayu. Besar juga.. “lo mau langsung masuk Nan?” tanya Bumi setelah mematikan mobilnya “hah? Nggak ko, nunggu balesan Bayu dulu katanya ngobrol di luar aja nggak usah di rumahnya” jawab Kinan sambil matanya tertuju pada handphonenya “ohh, eh bokapnya Bayu pengusaha apa gimana? Gede juga rumahnya” Bumi mencoba bertanya pada Kinan sambil menunggu Bayu keluar dari rumah ‘bokapnya vice president di Hotel Tosca Bum, ya wajar sih kalau rumahnya gede haha” jawab Kinan sekenanya “pantes lo betah sama Bayu” jawab Bumi reflek “maksud lo? Gue nggak serendah itu kali” seketika Kinan menatap tajam ke Bumi “eh nggak gitu Nan maksud gue asli nggak maksud apa-apa, iya gue tau ko lo bukan perempaun begitu” jawab Bumi cepat-cepat. Duh mampus gue, salah ngomong kan, malah bikin hancur kan.. dasar Bumi begoo.. “iya selow, lo juga sih ngomong asal ceplos aja” syukur deh Kinan nggak marah.. “Eh itu mobil Bayu keluar, gue duluan yaaa thankyou Bummmm” Kinan berlari kecil menuju mobil Bayu. Sepeninggal Bayu dan Kinan, Bumi masih belum ingin menyalakan mobilnya, entah kenapa hatinya nggak karuan melihat Bayu dan Kinan jalan berdua seperti itu

**

Kinan merasa senang bukan main, kangennya yang sudah tertahan selama dua bulan ini akhirnya bisa terbayar juga setelah Bayu mengajak bertemu dengannya hari ini untuk makan malam. Sepanjang jalan menuju cafe yang dimaksud Bayu, Bayu bercerita bahwa alasan 2 bulan ini dia tidak memberi kabar ke Kinan karena di keluarganya lagi ada masalah, Bokapnya sebentar lagi pensiun, sementara motel yang dirintisnya di Bali belum menunjukkan keuntungan yang berarti. “jadi sekarang kamu mau ngapain Bay? Mau tetep ngelanjutin kuliah atau ngurusin bisnis motel kamu?” Tanya Kinan setelah mendengarkan penjelasan Bayu “aku fokus dulu sama kuliah, kalau udah gitu kan ilmu yang aku dapat bisa diaplikasiin di motel Ayah” jawab Bayu. Sementara itu mereka sudah sampai di café yang dimaksud oleh Bayu, Kinan yang saat itu masih mengenakan seragam SMA risih dilihat oleh beberapa orang di café tersebut tapi melihat Bayu yang melangkah santai di sampingnya membuat Kinan menjadi cuek dan terus berjalan menuju meja yang sudah dipesan Bayu.

Kinan mengganti baju seragam dengan piyama tidurnya, niatnya untuk mandi diurungkan mengingat penyakit rematik yang akan menyerangnya lebih mengerikan dibandingkan tidur dalam keadaan berkeringat. Masih diingatnya perkataan Bayu tadi di café bahwa lelaki itu sangat amat menyayangi dirinya dan tidak ingin jauh darinya, namun Kinan tidak lantas senang mendengar perkataan Bayu tersebut. Entah kenapa pikirannya malah berkecamuk, selain memikirkan perasaan Ibunya yang sudah menyuruh menjauhi Bayu, Kinan pun tiba-tiba memikirkan Bumi “lah kenapa gue mikirin Bumi, emang kenapa sama Bumi.. ah sudahlah mendingan tidur saja besok harus bangun pagi lagi sekolah lagi” Kinan menarik selimutnya dan tidur dengan nyenyak

{continue…}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s