Merpati Terbaik

Jakarta, 20 Agustus 2008

Gerimis lagi.. aku benci keadaan seperti ini, gerimis hanya mengingatkanku pada luka. Seperti hal nya kulit yang terkoyak luka dan terkena gerimis seperti itu lah hatiku sekarang Bara. Gerimis hanya membuatku semakin luka.

*

“Kinan, sampai kapan mau tidur terus sayang. Ini hari minggu, lebih baik kamu jalan jalan ke Bunderan HI kan car free day, tinggal jalan kaki loh kesana ‘’ ujar mamah sambil mematikan AC kamarku dan duduk di sampingku yang masih sembunyi di dalam selimut

‘’mah… justru minggu itu waktunya tidur bukannya bangun pagi kaya senin sampai jumat.. cape’’ entahlah aku masih lelah, sepertinya badanku rontok banget setelah sabtu kemarin mengurusi pernikahan Wina sahabatku, bukan fisik yang cape tapi mentalku juga.. acara itu memang hanya berlangsung 2 jam tapi selama itu juga aku tersiksa. Membayangkan bahwa seharusnya 1 tahun yang lalu aku berada di posisi Wina, menerima ucapan selamat dari berbagai rekanan dan keluarga, berdiri di samping laki – laki yang telah mengucapkan ijab Kabul bersama ayahku. Bukan seperti sekarang ini, terus menerus mengutuk diri sendiri. Ah seandainya yang menikah itu bukan sahabatku pasti aku sudah menolak untuk datang.

“ah kamu ini, emang dasarnya pemalas yasudah mamah nyiapin sarapan dulu. Nanti kalau sudah bangun bantú mamah di dapur ya”

“iya mah” sahutku sambil tidak beranjak dari kasur sedikitpun

Bar, kamu pasti sekarang lagi car free day-an ya sama istri kamu. Mengajaknya jalan, menyusuri jalan Sudirman sambil sesekali mengelus kepala jagoan kecilmu. Sudah berapa bulan usianya Bar? Ah rasanya aku tidak ingin menanyakannya. Harusnya itu adalah posisiku, bukan wanita itu. Kamu jahat Bara.

Kenapa ya aku harus terus mengasihani diri sendiri seperti ini, Bara memang sudah melupakanku dan meninggalkanku demi wanita yang baru dikenalnya itu tapi kan bukan berarti aku tidak bisa menjadi lebih baik. Ah sudahlah, sepertinya sakit hati ini sulit untuk disembuhkan. 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar, 1 tahun adalah wajar kalau aku belum bisa melupakanmu Bara.

**

Bandung, 10 Maret 2007

Well, semuanya sudah siap. Jangan panggil Kinan, kalau masalah packing seperti ini saja aku tidak bisa. Memang kebiasaan buruk Bara yang tidak pernah bisa prepare jauh jauh hari padahal hari ini dia harus berangkat ke Bali untuk grand launching Hotel yang proyek pembangunannya dibangun oleh dia dan rekan satu tim arsiteknya. Sebenarnya aku pengen banget ikut, apalagi semenjak lulus kuliah 3 tahun yang lalu aku belum pernah menginjak Bali lagi karena kerjaanku yang cukup dahsyat, sayangnya Bara bilang lebih baik aku tidak usah ikut karena dia pasti akan sibuk sekali disana mengurusi bagian bagian hotel yang belum terjamah olehnya mengingat beberapa bulan ini aku menyuruhnya focus untuk proyek di Bandung saja dulu dan menyerahkan proyek hotek itu ke rekan satu timnya. Sebenarnya itu hanya alasanku saja sih, sebab 3 bulan yang lalu aku dipindahtugaskan ke cabang kantorku yang di Bandung kan sayang aja kalau setelah 2 tahun harus LDR-an, aku di Jakarta dan Bara di Bandung giliran ada kesempatan untuk berdua di kota yang sama Bara harus meninggalkanku ke Bali untuk proyeknya disana.

“sayang, kamu janji ya di Bali nya sebentar aja. Jangan lama lama nanti aku kangen hehe” aku memeluknya dari belakang, entah kenapa ini posisi favorit aku jika sedang berduaan dengan Bara. Dipeluknya dari belakang atau harus memeluknya dari belakang seperti yang kulakukan sekarang. Rasanya berat banget melepas Bara ke Bali seperti ini. Padahal Cuma ke Bali.

“iya sayang, kamu nya jangan sedih ya.. aku juga paling lama sebulan kok. Aku janji sepulang aku dari Bali kita ngurus pernikahan kita yang tinggal beberapa bulan lagi. Nggak enak juga sama mamah dan ibu, mereka terus kepikiran karna kita lebih sibuk sama pekerjaan kita” Bara membalikkan badannya dan menatapku lekat, diusapnya air mataku yang mengalir membasahi blazer cape kesayanganku ini. Ya ya ya aku memang lebay, tapi aku nggak bisa membayangkan sendirian di kota perantauan tanpa Bara.

“i promise Kinan, i’ll be back soonest for you” Bara merapikan poniku dan mencium keningku untuk waktu yang cukup lama. Entahlah, rasanya seperti berat sekali untuk melepas Bara pergi kali ini seperti akan ada sesuatu yang hilang dan sulit untuk kembali. Ah mungkin ini hanya perasaanku saja yang ketakutan akan ditinggal sendiri, cuam sebulan Kinan. Cuma sebulan! Masa gitu aja nangis sih

“ok, I’ll survive for you Bar. But promise me you have to call me everyday. Ok?” ujarku sambil mengangkat jari kelinking aku pertanda deal dengan Bara

“iya sayang, kamu nih ya kaya anak kecil aja pake janji kelingking” jawab Bara sambil melingkarkan kelingkingnya di kelinkingku pertanda ‘deal’ dengan kesepakatan ku.

“yaudah yuk kita ke Bandara, Bandung sekarang kan macet aku takut ketinggalan pesawat”

**

Bali, 30 Maret 2007

Yuhuuu.. akhirnya sampai juga di Bali. Kasih tau Bara sekarang atau nggak ya, emm surprise aja deh biar dia seneng hehehehe. Eh ngomong ngomong ke hotel yang jadi proyekannya Bara naik apa ya, taksi pasti tau lah ya masa iya taksi gatau, duh koperku berat banget sih nyesel juga packing kebanyakan gini tau gitu ditinggal sebagian deh di kosan.

**

Wuihhhhh bener nih hotel tempat Bara yang memimpin proyek pembangunannya. Keren juga calon suami aku ini, siapa yang sangka nanti kalau ke Bali sama anak kita, eh calon anak kita maksudnya terus bilang ke dia “nak ini papah kamu loh yang bikin, keren yah” hihihi rasanya makin nggak sabar banget menikah dengan Bara dan punya 2 anak yang satu jagoan kaya bapaknya yang satu lagi princess kaya ibunya hihihi duh Baraaaaa ayo cepetan dong nikahnya.

Eh kok aku kebanyakan melamun ya, lebih baik aku pesen kamar dulu aja deh. Tadi 2 jam yang lalu sebelum berangkat ke Bali, Bara bilang lagi di luar kantor meeting sama yang punya hotel. Duh calon suami ku itu sibuk banget sih. Yaudahlah ya mending istirahat dulu, lumayan juga perjalanan kali ini setelah semalam aku harus lembur menyelasaikan sisa pekerjaanku daripada di waktu cuti ini harus keganggu kerjaan. Tau sendiri deh creative director yang baru ini galaknya kebangetan hii.. males ngebayangin dia bakal nelepon aku pas aku lagi bermesraan sama Bara di pantai Bali ini.

“excuse me mam, can I help you” sapa resepsionis yang cantik ini, duh resepsionisnya aja cantik begini moga moga Bara nggak buta deh amit amit cabang bayi hiii

“oh yes, indonesia please. Saya indonesia asli kok” Balasku menyapanya sambil tersipu malu, maklum saja banyak yang bilang mukaku ini indo banget jadi banyak yang mengira aku ini nggak bisa Bahasa indonesia

“oh, maaf ibu saya pikir turis. Ada yang bisa kami bantu?” ujar respsionis itu sambil tersenyum

“boleh, suite room yang view pantai ada?”

“ada bu, kebetulan sekali tinggal tersisa 1 suite room view pantai utara. Untuk berapa malam?”

“emm 2 malam saja ya” jawabku sambil memberikan debit cardku, padahal aku berniat untuk menginap disini selama seminggu penuh tapi siapa yang sangka kan siapa tau aja Bara bisa memberiku penginapan gratis secara ini hotel tempatnya bekerja. Lumayan uangnya bisa di save buat pernikahan nanti hihihi

“baiklah, suite room Cendrawasih kamar nya nomor 35 ya bu. Silahkan ikuti petugas kami untuk diantar”

“oke terimakasih”

Woooowwww, kamarnya bagus banget, romantis dan view pantai. Ada gazebo dan private mini pool. Ckck calon suamiku in memang keren desainnya, harusnya tadi aku bilang saja ya kalau aku ini calon istrinya Bara hihi.

Semoga Bara senang dengan kedatanganku kali ini, segaja aku ijin cuti mendadak seperti ini supaya bisa diberi ijin oleh bosku yang baru itu. Rasanya kepengen banget ngasih surprise di hari ulang tahunnya Bara besok yang ke 28 tahun. Sebenarnya sayang sih uangnya kan bisa buat honeymoon nanti setelah menikah tapi kapan lagi sengaja menyiapkan ini semua dan taraaaa aku sudah menyiapkan kado special untuk Bara yang sudah aku persiapkan dari 2 bulan lalu, sebuah ucapan selamat ulang tahun dari pemain bola Manchester united yang jadi favorit Bara. Kebetulan temanku bekerja di perusahaan yang investasi di klub bola itu jadi ya lumayanlah nggak susah susah amat hehehe.

Eh ngomong ngomong Bara kemana ya, sayang nih view sebagus ini kalau Cuma dinikmatin sendirian. Kok hp nya Bara nggak aktif sih.

*

Loh aku ketiduran ya, what ?! udah jam 7 malam?? Dan nggak ada satupun miscall atau BBM baru dari Bara, duhhh Bara kemana sih mana laper banget pula. Makan di hotel pasti gitu gitu aja, ke jimbaran aja deh.

*

Crop tee ZARA, jeans keluaran MANGO terbaru dan sendal jepit Surfer Girl.. simple is me dan itu yang membuat Bara jatuh hati padaku, katanya dulu saat awal awal hubungan kami. Tapi nggak enak juga ya makan malem sendirian gini, Bara kok ngeselin sih nggak bisa dihubungin gini. Masa meeting sampai malam dan hpnya mati.

There’s no way ya kalau malam ini aku harus tidur sendirian hihihi.. pokoknya malam ini harus dilewatin sama Bara apalagi tepat jam 12 malam nanti adalah hari ulangtahunnya.

Eh bentar deh..

Kok kayanya itu Bara ya..

Kok sama perempuan sih..

Iya kan bener itu Bara..

Masa iya sih kliennya..

Kok.. mes…

Aku harus samperin Bara, nggak mungkin itu Bara. Nggak mungkin. Bara nggak mungkin selingkuh.

Shit.. gerimis pula.. bisa bisa masuk angin deh aku..

“Bara..”

“Ki…nan..ka.. kamu ngapain di sini?” Bara terkejut melihatku, nggak mungkin! Ini pasti salah lihat! Ini nggak mungkin Bara! Tapi ini memang benar Bara dan dia mengenalku, dia terkejut! Kata Wina, kalau laki laki sedang selingkuh dan merasa kaget pas ditemuin tandanya ia benar benar sedang selingkuh

“Kinan.. dengerin aku dulu.. Kinan Please jangan mikir macam macam” Bara berusaha mengejarku yang berlari menembus gerimis dan kerumunan orang. Aku nggak kuat, aku harus pergi, aku nggak mau Bara melihat ketololanku menangisi dia. Bara Kurang ajar, Bara jahat.

“terus apa Bar? Barusan itu apa? Siapa perempuan itu?” aku nggak sanggup menanyainya lagi, barusan iitu cukup jelas. Perempuan itu sedang menangis di pelukan Bara dan Bara sedang membelai rambutnya saat aku datang menghampirinya. Bara segera melepaskan pelukan itu dan perempuan itu.. dia berhenti menangis, bingung dengan kedatanganku.

“Kinan aku Cuma minta kamu tolong ngerti”

“ngerti?? Ngertiin kamu?! ngertiin apa hah?”

“please Kinan, duduk dulu ya.. dengerin aku.. aku mohon” Bara mengajakku duduk di pesisir pantai itu, beralaskan sendal jepit aku menangis.. Untung saja pantai itu sedikit sepi, aku hanya ingin mendengarkan penjelasan Bara, siapa perempuan itu

“namanya Sierra, dia rekan kerja aku disini. Aku emang tolol Kinan, aku kebawa suasana”

“maksud kamu?” aku memandangnya nggak mengerti

“5 hari setelah kedatanganku di Bali, dia datang ke kamarku dan menangis karna calon suaminya telah menikah dengan orang lain tanpa dia tahu. Laki laki nya playboy Nan”

“… terus?”

“malam itu kami berbuat bodoh.. aku….. terbawa suasana, jujur aku kangen kamu banget dan… aku mabuk…”

“dan kamu akhirnya making love with her. Bener kan tebakanku?”

“….”

“bener kan Bar? Jawab aku”

“dan tadi dia bilang sama aku kalau dia positif hamil, maafin aku Kinan.. maafin aku” Bara menangis dan memelukku

Aku menepisnya, jawaban tadi sudah cukup jelas. Nggak akan ada pernikahan, nggak akan ada lagi Bara di hidupku.. aku terus berlari, lagi lagi menembus gerimis dan ingin segera menuju kamar hotel ku. Tidak peduli pegawai hotel pada melihatku, yang aku inginkan hanyalah segera menuju kamarku.

Hancur Bara.. semuanya hancur.. kamu menghancurkannya..

**

Jakarta, 17 Agustus 2007

hari ini, seharusnya jadi hari pernikahanku digelar. Tanggal yang sengaja kupilih karena terdapat sejarah di dalamnya. Bukan hanya tanggal kemerdekaan indonesia tapi juga tanggal dimana Bara memintaku untuk jadi pacarnya 7 tahun yang lalu.

Beruntungnya aku memiliki keluarga dan sahabat yang sangat amat mengertiku. Semenjak kepulanganku dari Bali saat itu, bergegas aku pun resign dari pekerjaanku. Berat saja sepertinya kalau aku harus tetap disana sementara Bandung menyimpan kenangan manis dan pahit yang harus dikenang. Sementara tidak mungkin juga aku harus meminta atasanku untuk memindahkanku kembali ke Jakarta.

Di rumah semua tentang Bara sudah tidak ada, sedikitpun tidak ada. Aku memang mengabari mama tentang ini sesampainya di Bandung, mereka sangat kecewa terhadap Bara. Begitupun dengan orangtua Bara. Mereka sangat meminta maaf padaku, tapi apalah arti itu semua, kesalahan Bara sudah aku ikhlaskan permintaan maaf keluarganyapun sudah aku terima. Terakhir kabar yang aku dengar mereka sudah menikah dan sekarang menetap di salah satu apartemen yang tidak jauh dari rumahku.

**

Jakarta, 25 Desember 2008

Orang bilang aku adalah workaholic, bullshit.. aku bukanlah seperti yang mereka lihat. Semua yang kulakukan selama ini adalah cara supaya aku bisa melupakan Bara.

Bara.. ah sudah lama aku tidak mendengar kabar tentangnya.. pasti anaknya kian membesar, dan mereka hidup bahagia bersama.

Ahhhhh tolol tolol tolol.. kenapa juga sih aku harus memikirkan Bara.. lebih baik aku harus mulai menyelesaikan pekerjaanku, kaya orang bego aja di hari libur begini aku harus segera menyelesaikan presentasi ku untuk besok.

MUMET.. sepertinya aku harus keluar untuk refreshing sedikit. Sepertinya ice coffee cocok untuk sekarang ini..

*

“espresso dan green tea lattenya satu ya mba, susu krim aja jangan soya” ujarku kepada pelayan kafe itu

Sepi.. bosan juga sendirian. Di rumah sendirian, keluargaku sedang berlibur ke Jepang. Wina sedang natalan dengan keluarga kecilnya. Sedangkan aku? Hhh… seandainya ada Bara

Aaaaaaaahhh Bara lagi dia lagi.. Kinan, kamu move on dong!

“Kinan..”

“ya..” kudongakkan kepala ku dari layar Iphoneku untuk melihat siapa yang memanggilku

“….Bara”

“boleh aku duduk disini?” ujarnya hati hati

Ohmy God Bara terlihat ganteng sekali malam ini, tapi wajahnya… seperti ada yang beda.. ada apa ya.. duh Baraaaa ngapain sih laki laki yang sudah meninggalkanku ini ada disini di depanku dan dengan tololnya membiarkan dia satu meja denganku. Kinan Tololllll

“aku minta maaf”

“untuk?”

“aku udah salah Kinan, pls maafin aku.. aku nggak mau sia siain kesempatan kita bertemu malam ini. Sudah lama aku mencarimu walaupun aku tahu di mana kantormu dan rumahmu”

“kamu tuh ya, datang datang langsung minta duduk denganku dan nggak ada basa basi langsung minta maaf. kesalahanmu yang mana Bar?, sudahlah aku menganggap kita nggak pernah ada apa apa kok” ujarku sambil meminum espressoku

Karena semakin aku mengingat hubungan kita yang lalu Bar, aku semakin sakit

“aku nyari kamu Kinan, walaupun aku tau kamu dimana tapi aku malu untuk ketemu kamu”

Aku tidak berani menatapnya, yang aku lakukan hanyalah memanggil pelayan untuk meminta bill dan membayarnya segera. Aku tidak ingin melihatnya lagi walau hanya semenit, itu sudah cukup menyakitkan karna aku baru menyadari, kehadirannya masih menyita cukup banyak ruang di hatiku.

“Kinan mau kemana, pls dengerin aku dulu” Bara menarik tanganku saat aku hendak meninggalkannya

“kamu tau Bar? Aku berusaha keras melupakanmu dan sekarang kamu hadir lagi di depanku seolah semua itu hanya bisa diselesaikan dengan maaf.. kamu jahat.. sekarang biarin aku pergi. Dan aku mohon sama kamu. Kalau suatu saat nanti kamu melihatku please kamu pergi dan jangan biarin aku melihatmu lagi. Cuma itu permohonan aku Bar” aku melepaskan tangannya dari tanganku. Meninggalkan dirinya sendirian di meja itu dan saat itulah dia berkata “ aku sudah cerai Kinan, Sierra meninggalkanku dan membawa anak itu pergi bersamanya. Sebelum dia pergi, dia menitipkan surat dan berkata dari hasil DNA anak itu bukanlah anakku melainkan anak dari laki –laki yang dulu meninggalkannya. Dia malu dan ingin meminta maaf karena sudah menghancurkan hubungan kita Kinan. Aku tau semua ini nggak akan memperbaiki hubungan kita. Aku tau semua ini nggak akan berpengaruh apa apa Kinan. Tapi biarkan aku menyesali kebodohanku waktu itu Kinan”

Air mataku mengalir, kenapa juga Bara harus mengatakannya. Semua itu nggak akan berpengaruh apa apa untuk hubungan kita sekarang Bar. Aku sudah terlalu sakit.

Tekadku bulat, aku harus meninggalkan Bara dan lagi lagi saat ini gerimis. Ah shit, kenapa juga harus gerimis. Aku benci gerimis.

**

Jakarta, 31 Desember 2008

“Come on Kinan, hari ini kita half day loh. Kamu jangan kaya orang yang gila kerja gitu dong sayang” Wina membereskan mejanya dan bergegas untuk pulang

“Wina Cantik, kamu sih enak ya pulang ada yang nungguin. Lah aku? Di rumah aja sepi lagi pada liburan. Mending disini bisa internetan gratis”

“HAHAHA gila kamu ya, jangan kaya orang susah deh. Yaudah ah aku pulang duluan ya, udah pada nunggu di lobby tuh”

“oke, see you. Happy new year dear”

“see you and happy new year too love”

“ahaha jijik ah kaya pasangan suami istri aja”

“hahaha.. bye”

Yup Wina meninggalkanku, makin deh sendirian kaya gini apes banget

“eh Kinan..”

“heh kok belum pulang”

“Cuma mau bilang, Bara still looking you. He’s waiting for you till now. Cerita dia tentang perempuan itu benar. Bara nggak salah Kinan. Aku rasa mungkin udah saatnya..”

“stop it Win, just go back to home. Seriously I’m ok without him”

“… ok darl. Bye”

Bara still waiting me? Hahaha Wina’s joke is really really bullshit sometimes.

Baiklah.. kayanya aku emang harus pulang dan bergegas menghadiri acara tahun baru klienku di salah satu hotel ternama di Jakarta ini. Katanya sih sekalian grand launching hotel itu dan pertemuan untuk semua rekan bisnis yang terlibat dalam pembangunan hotel itu. Kebetulan kantorku sebagai konsultan marketingnya.

**

Jakarta, 1 January 2009

“three.. two.. one….yeaaayyyy happy new yeaaaaarrrrrr”

Semua orang saling meniupkan terompet masing-masing, ada yang berpelukan, berciuman layaknya pasangan mabuk cinta atau ada juga yang sedang menyendiri sepertiku saat ini. Hahaha.. moodku sangat tidak enak, terutama semenjak kemunculan Bara saat itu.

“Kinan..”

Hah.. Bara lagi? Kenapa juga harus ketemu disini sih

“Bar, kamu ngapain disini?”

“loh kamu ngapain disini?”

“ini klien kantor ku, dan aku diundang kesini”

“hahaha dan ini klienku juga, aku membantu pembangunan hotel ini”

Oh crap, aku lupa kalau Bara adalah arsitek. Tolol ya Kinan, kenapa kamu nggak memikirkan hal itu sebelumnyaaaa

“oh iya aku lupa.. emm Bar aku duluan ya”

“kamu mau kemana” seperti waktu itu, Bara menahanku untuk tidak pergi

“aku mau pulang, aku nggak nyaman di tempat ramai kaya gini” ujarku sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman Bara

“aku haus, aku jadi inget waktu di café sabang itu aku ngabisin ice Green tea kamu dan rasanya enak”

“… hah? Maksudnya?” ini Bara lagi kesambet setan apaan ya? kok ngelantur gini sih

“temenin aku yuk kesana lagi”

“……”

“come on Kinan”

“Nggak ah, aku nggak mau jalan sama duda kaya kamu”

“kan dudanya keren Kinan.. bukan duda jelek yang udah tua renta”

“Baraaaaaa….”

“hehehe.. just Hug me Kinan? I love you.. I miss you so much” Bara menarikku dan memelukku dengan erat..

Me too Bar, karena merpati terbaik akan selalu pulang dan kembali.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s