R.A.N.A

“gue nginep ya” dengan cepat Rana memasuki pintu kamar kostku yang tidak seberapa besarnya

“iya na, emang kamu darimana? Ko jam segini baru pulang?” Aku menutup pintu lantas mencarikan sepotong baju untuk Rana

“biasa, cari duit. Besok jangan bangunin gue ya, gue udah titip absen sama Bumi”

“iya, kamu dipinggir seperti biasa nggak apa – apa? aku nggak bisa tidur di pinggir” jawabku “iya, selamat tidur Ndre”

Klik

Lampu tidur baru saja Rana matikan, sementara aku masih terus berkutat dengan laptopku dibantu dengan penerangan seadanya dari layar laptop. Sudah tidak heran lagi dengan kedatangan Rana yang tiba-tiba depan piintu kostku. Bisa 1 sampai 2 kali dalam seminggu Rana menginap di kostku, dan biasanya malam sabtu atau malam minggu. Walau begitu, aku tetap menanyainya dengan pertanyaan yang sama yaitu ‘darimana’ padahal aku tau darimana dia malam itu.

Seperti malam ini, aku harus merelakan suasana hening di kamarku untuk berkosentrasi penuh mengerjakan proyekku sementara Rana selalu bising dalam tidurnya, aku sendiri heran kenapa Rana seperti tidak pernah tenang dalam tidur, ia selalu mengigau dan melenguh layaknya manusia yang mengalami depresi berat. Sebenarnya aku bukannya terganggu atau tidak rela, tapi terkadang aku sedih sendiri melihatnya, ingin sekali aku bertanya ‘ada apa sama kamu’ tapi entah kenapa hatiku berkata jangan sekarang, hingga suatu saat nanti aku akan bertanya padanya.

Kalau gitu, lebih baik aku tidur sekarang supaya besok tidak telat. Besok memang hari Sabtu tapi dosenku yang killer itu sering tidak masuk dan mengganti kelas pada weekend. Tapi ya mau gimana, namanya juga nasib mahasiswa.

**

Hai kenalkan, namaku Andrea Kinanti, tapi orang-orang bilang kalau mau terasa dekat denganku panggil saja aku Andre, ya walaupun orang yang baru kenal akan merasa heran karena nama itu seperti lebih cocok dengan cowok. Aku lahir di Bandung, tapi besar dan tumbuh di Jakarta sampai akhirnya aku harus balik ke Bandung karena diterima untuk kuliah di salah satu inversitas di Bandung. Walau keluarga besar ayah dan ibuku berada di Bandung, aku tidak cukup familiar dengan kota ini. Itulah alasan kenapa aku begitu bersemangat melanjutkan hidupku selama 4 tahun kedepan di kota kembang ini. Ohiya, aku anak kedua dari 2 bersaudara, kakakku Tora kini bekerja di salah satu maskapai penerbangan sebagai marketing communication. Seringkali aku iri dengannya, wajah tampan, bekerja di maskapai paling ternama di Indonesia dengan divisi impian aku yaitu marcomm, ditambah memiliki pacar seorang pembaca berita yang tidak hanya cantik tapi juga pintar namanya Ka Nindy.

Eh ko keterusan menceritakan tentang diriku, haha tapi nggak apa-apa ya, oke selanjutnya ini tentang sahabatku. Dia yang ingin kuceritakan, setelah 3 tahun lebih berteman pada akhirnya aku bertanya ada apa dengan hidup dia, karena selama 3 tahun ini walaupun dia cukup terbuka dalam banyak hal tapi aku tau ada yang ditutupi sama dia dan dia menceritakan segalanya.

Namaya Rana, di akta kelahirannya hanya tertulis nama Kirana nama lengkapnya. Perempuan yang berasal dari Jogja ini memiliki paras yang cantik dan eksotis, berotak pintar dan renyah kalau tertawa. Mungkin kalau aku cowok, aku sudah suka dengannya. Bagiku, dia perempuan yang sempurna, tapi tentu tidak dengan dirinya yang selalu menganggap bahwa ia hanyalah seorang manusia tanpa harga diri.

**

“ibu..”

Rana mengusap kepala orang yang sangat dicintainya itu sambil sesekali berbisik di telinganya “Rana sayang ibu, ibu bangun ya, ibu sehat.. supaya kita bisa pergi bu.. kita pergi ke Venice, kampung ibu”

Lagi – lagi air mata Rana mengalir membasahi bajunya. Aku terlalu kaget melihat ini, baru saja 2 jam yang lalu aku menanyai Rana yang lagi asyik makan di kost ku “kamu ada apa? apa yang kamu tutupin dari aku Rana?” , dan Rana tidak menjawab apa – apa hanya memberhentikan makannya lantas mengajakku pergi hingga akhirnya disini aku sekarang, di sebuah kamar kelas 2 salah satu Rumah Sakit pemerintah di Bandung.

“ibu sakit.. gatau sakit apa.. dokter bilang ibuku hanya sakit biasa tidak terdeteksi adanya penyakit macam-macam. Tapi ibuku koma, dan yang aku tau dokter masih belum menemukan penyakit apa yang mendera ibuku” Rana tiba-tiba berbicara layaknya menjawab pertanyaan yang daritadi aku simpan di dalam hati

Aku diam, kuberi dia kesempatan untuk bercerita, karena kurasa itu yang dia butuhkan saat ini. Berbagi pada orang lain untuk sekedar menurunkan bebannya.

“ibuku lahir di Venice, karena kakekku asli sana, sementara nenekku asli Jogja . Ayahku keturunan bugis makassar tapi keluarganya besar di Jogja. Mereka bertemu saat mereka masih kuliah di UGM. Ibuku akhirnya memutuskan untuk menetap di Indonesia dan menikah dengan ayahku, walau pada saat itu kakek dari ibuku menentangnya dengan keras. Menurut kakek, ayah bukan laki-laki yang baik. Tapi ibu tidak patuh dan mereka nikah siri, kemudian menetap di Jogja”

Rana menyalakan sebatang rokok, sambil mengemudikan mobil dengan pelan. Terlihat jelas di mukanya ada sesuatu yang tidak ingin ia buka kembali.

“4 bulan setelah ibu menikah, aku lahir. Ya, ibu menikah karena ibu terlanjur hamil oleh ayahku. Ayah yang belum berpenghasilan saat itu hanya mengandalkan berjuakan sepatu kulit melalui teman-temannya dengan keuntungan yang hanya cukup untuk makan nasi tempe setiap harinya dan sesekali makan ikan tongkol setiap minggunya”

“memang ayahmu tidak punya keluarga yang bisa membantu Ra?” aku tergelitik untuk bertanya

“tidak, ayahku tidak pernah menceritakan keluarganya, darimana ia berasal bagaimana ia hidup dan bagaimana ia sekolah. Setiap kali ibuku bertanya jawabnya hanya ‘tidak menarik menceritakan keluargaku’ sampai ibuku bosan untuk bertanya dan mencoba mencari tahu sendiri”

Rana terdiam cukup lama begitu juga denganku. Jalanan di Bandung pada saat itu ramai tapi hanya sunyi yang aku rasakan pada saat itu, berdua dengan Rana di dalam mobil dengan AC yang cukup sedang. Mobil yang Rana dapat dari hasil kerjanya itu cukup nyaman di dalamnya bahkan bisa dijadikan tempat tidur di dalamnya kalau mau. Sofa yang dilipat bisa berbentuk kasur empuk layaknya kasur mahal, speaker berkekuatan tinggi di belakang, kulkas mini hingga bantal guling lengkap. Aku mengira, kalau tidak nginap di kost ku ia sepertinya tidur disini karena ibu kost-mya yang cerewet.

Ah, aku bingung harus ngomong apa sekarang. Bahkan aku sampai lupa pertanyaan – pertanyaan yang ingin aku tanyakan sedari tadi. Rana hanya diam dan mengajakku berkeliling Bandung tanpa tujuan.

“ternyata ber aku kamu enak ya ndre, Cuma sama kamu nih aku ber aku kamu gini. Biasanya kan gue elo haha” Rana memecah kesunyian di antara kami berdua

“haha iya ya Ra, baru sadar aku. Pantes aja kaya ada yang janggal daritadi hehe”

“haha iya nih, eh Ndre kita ke Dago Pakar yuk, ke cafe temenku” Rana membelokkan mobilnya ke arah Dago sementara aku hanya mengangguk sambil tersenyum pertanda setuju.

**

Rana menghisap dalam – dalam rokok menthol yang dipegangnya, aku tahu betul Rana bukan perokok berat, tapi ia akan merokok di saat masalah datang menghampirinya.

“kamu nggak pernah cerita Ra kalau ada temenmu yang punya cafe sekeren ini” aku masih takjub dengan pemandangan di depanku sekarang, serangkaian lampu-lampu di perkotaan dari gedung dan rumah-rumah menjadi daya tarik tersendiri yang membuat orang betah duduk berlama-lama disitu. Tiba-tiba seorang waitress datang membawakan 2 minumang yang sudah aku dan Rana pesan tadi, segelas espresso kopi hitam untukku dan cappucino float untuk Rana.

“mbak Rana bapak sudah datang, katanya tunggu saja disini sambil menunggu bapak rapat dulu” waitress tadi berbicara pada Rana seakan – akan sudah mengenalnya dengan baik dan Rana hanya menganggu tersenyum sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya

“ayah menjualku Ndre, saat itu umurku 17 tahun”

Sontak aku terkaget dengan apa yang kudengar barusan, tapi tatapan Rana membuat aku terdiam dan seakan mengisyaratkan agar aku diam, jangan bertanya dahulu.

“yang kutau ayah hanya penjual sepatu kulit tapi makin hari pendapatan ayah seperti semakin banyak dan saat umurku 2 tahun, keluargaku sangat kaya. Kehidupan itu kualami sampai umurku 15 tahun dan selama itu yang kutahu Ayah hanyalah penjual sepatu kulit. Pikirku waktu itu mungkin Ayah tidak lagi berjualan keliling seperti dulu melainkan memiliki toko sendiri”

‘Biip’ iphone ku bergetar, ada chat masuk, ah rupanya kak Tora yang sedang menanyai kapan aku akan pulang ke Jakarta. Kubiarkan chat dari Kak Tora, aku lebih tertarik dengan cerita Rana selanjutnya.

“waktu itu umurku 15 tahun saat tiba-tiba ada seorang laki-laki tua berumur 50 tahunan dengan dikawal 4 orang laki-laki berbadan besar datang ke rumahku dan mengacak-ngacak rumahku sambil marah-marah tidak jelas. Aku dan ibu ketakutan, hingga kami mengurung diri di kamar. Ayah keluar menghadapi orang-orang itu dan dari percakapan yang aku dengar dari balik pintu saat itu aku tahu bahwa pendapatan ayah berasal dari menjual perempuan-perempuan untuk ditawarkan ke lelaki hidung belang. Pantas saja ia selalu bekerja pada malam hari dengan alasan mengecek produksi”

kami terdiam cukup lama sambil sama – sama menghadap ke pemandangan yang penuh cahaya dari lampu – lampu perkotaan. “Andrea.. kamu nggak akan menjauhiku karena ceritaku ini kan?” Rana mengagetkanku dengan pertanyaannya yang konyol

“tentu tidak Kirana! Sudah berapa lama kita berteman? Apakah aku terlihat seperti akan menjauhimu?” jawabku meledek sambil meminum habis segelas espresso di depanku.

“yaah aku hanya takut Ndre haha. Karena itu yang terjadi saat aku di SMA dulu” Rana menghisap rokoknya yang terakhir kemudian meminum sedikit cappucinonya yang sudah muali tidak dingin itu.

“2 hari setelah kedatangan orang-orang itu hidupku berubah total, ayahku kehabisan perempuan yang masih muda dan perawan sampai akhirnya ayah gelap mata dan berniat menjualku. Ibu yang mengetahui rencana itu sangat menentang keras niat ayah dan bersumpah akan menceraikan ayah apabila ayah tetap ingin menjualku. Tapi ayah tidak peduli, ibu dikurung di dalam sebuah kamar di belakang rumah kemudian ayah memberiku sebuah pakaian mini yang memperlihatkan bagian-bagian sensitif dari tubuhku. Ayah mengajakku ke sebuah rumah yang mana disana sedang ada private party salah satu artis era 70an. Malam itu.. ah sudahlah tidak usah diceritakanpun kamu akan tau kelanjutannya”

Aku diam dan hanya diam, hatiku berkecamuk antara marah dan sedih. Jadi ini alasannya ia kerja di dunia hiburan setiap malam Sabtu dan malam Minggu. Jadi ini alasannya kenapa ia selalu terlihat tegar padahal di balik itu semua ia menyimpan luka yang amat sangat dalam. Aku memeluknya, aku hanya ingin membuatnya tenang setelah ia menceritakan masa kelamnya dan Rana menangis di pundakku, menangis tanpa suara tapi aku bisa merasakan air matanya jatuh dan membasahi baju belakangku.

“aku.. aku.. dikucilkan di sekolahku Ndre, bahkan laki-laki yang saat itu aku cintaipun meninggalkanku dan dengan terang-terangan mereka memanggilku perempuan murahan semenjak fotoku sedang melayani om-om terpampang di salah satu media sosial temanku” Rana masih menangis di pundakku dan melanjutkan ceritanya

Ternyata, setelah 1 tahun Rana bekerja pada ayahnya, ibunya jatuh sakit dan mulai melemah sampai akhirnya koma selama 4 tahun hingga saat ini. Rana masih bekerja pada ayahnya, karena itulah ia bisa memiliki mobil mewah dan membiayai rumah sakit ibunya.

Malam itu aku pulang setelah menunggu Rana melakukan pekerjaannya dengan pemilik cafe tersebut. Malam itu juga aku berjanji pada diriku sendiri untuk terus menjaga Rana layaknya saudara, dan kelak akan kubuat Rana meninggalkan pekerjaannya.

**

Setahun setelah Rana menceritakan hidupnya aku dinyatakan lulus dan kini gelar S.Ikom ada di belakang namaku. Kini aku membereskan barang-barang yang ada di kamar kost ini karena besok aku sudah meninggalkan Bandung. Heran.. Rana kemana ya, sudah 3 hari ini aku tidak melihatnya padahal aku akan meninggalkannya di Bandung karena dia masih belum menyelesaikan skripsinya. Untungnya selama setahun ini Rana perlahan demi perlahan meninggalkan pekerjaannya, ibunya berangsur-angsur sembuh setelah keluarganya di Venice membawa ibunya berobat di Singapura. Sementara ayahnya? Mengaku tobat dan tidak lagi memperkerjakan Rana setelah kakek Rana dari ibunya mengancam akan melaporkannya pada polisi.

Hih berdebu sekali kotak-kotak ini, yah gimana tidak berdebu kalau kotak ini aku abiarkan selama bertahun tahun di atas lemari dan tidak pernah aku sentuh sama sekali. Kubuka kotak itu dan tersenyum melihatnya bahkan kadang tertawan sendiri apabila melihat foto-foto saat aku dan Rana jaman ospek dulu, begitu konyol dan memalukan apabila dilihat terus menerus. Hingga aku tidak sadar ada yang mengetuk pintuku sejak tadi. Kutaruh kotak dan foto – foto itu lantas berdiri menghampiri pintu, kuharap Rana yang datang mengunjungiku.

Ternyata salah sebab kini kulihat seorang laki-laki tampan setengah bule sedang tersenyum melihatku. Ah kalau saja aku tidak punya malu sudah kukecup pipinya yang bulat itu. Eh tapi jangan senyum dulu, siapa dia dan apa keperluan dia datang kemari

“apakah kamu Andrea? Andrea Kinanti?” tanya laki-laki setengah bule itu

“iya saya sendiri, kamu siapa?” aku kaget ia mengenalku, apalagi gaya bicaranya tadi seperti bukan bule atau turis melainkan seseorang yang lahir di Indonesia dan besar di Indonesia

“oh hai, aku Varo sepupu Kirana, boleh aku masuk?” tanyanya sambil mengajak bersalaman denganku

“oh iya iya Varo silahkan, loh Rana mana?” jawabku mempersilahkan Varo masuk sekaligus heran kenapa yang datang malah sepupunya Rana, bukan Rana.

“emm, aku kesini hanya ingin memberi ini. Mungkin surat ini akan menjawab pertanyaan kamu barusan” Varo memberikan sebuah surat padaku yang langsung aku buka dan membacanya

Rana.. tidak mungkin, ini tidak mungkin. Baru 3 hari lalu aku bercanda dengannya dan meledek cita-citanya untuk menjadi pilot sementara kuliah di jurusan komunikasi tapi hari ini.. kenapa hari ini begitu.. tidak mungkin.. ini tidak mungkin.

Rana.. kini kamu sudah jadi pilot. Pilot yang membawamu kembali ke Pemilikmu. Selamat jalan Rana, walau pahit mungkin ini yang terbaik untukmu. Kutaruh surat itu di kasur dan cepat – cepat kubereskan barang-barang yang ada di kamar semua itu. Sudah kutekadkan diriku untuk kembali ke Jakarta dan memohon pada ayah ibuku juga kak Tora untuk mengijinkanku melanjutkan S2 di Venice. Akan kukunjungi negara idamanmu selain Indonesia, kutengok ibumu dan ijinkan aku menganggap ibumu sebagai ibuku juga. Tunggu aku disana Rana, tunggu aku.

Halo Andreaaaaaaaa

Hayo lagi ngapain kamu sekarang? Pasti lagi senyum senyum sendiri ya karena mendapat surat dariku J

Andrea, maaf kalau aku berhenti menemuimu. Bukannya aku tidak mau bertemu denganmu, melainkan aku tidak ingin kamu melihatku sedang menahan sakit ini. Aku terjangkit HIV Ndre, penyakit ini sudah 2 tahun bersarang di tubuhku, karena itulah aku selalu memakai masker apabila menginap di kostmu. Jangan tersinggung ya sahabatku tersayang, aku hanya tidak ingin menularkanmu.

Aku tidak pernah berniat untuk menyembuhkan penyakit ini karena saat dokter memvonisku aku bersyukur, bersyukur karena aku bisa cepat meninggalkan dunia ini. Aku terlalu lelah untuk menghadapi semuanya. Tapi sebelum aku mati, aku ingin menabung sebanyak mungkin agar bisa menyembuhkan ibuku.

Doaku terjawab, ibu sembuh walau bukan murni dari hasil jerih payahku setelah berhenti dari pekerjaan memalukan itu. Kamu tahu tidak Ndre, hari di saat aku diterima kerja kamu mendapatkan sepotong coklat di depan kamarmu dan kamu mengira itu dari anak kost depan yang sudah lama kita taksir. Sebenarnya itu coklat dariku sebagai rasa terimakasihku, mungkin itu tidak seberapa apabila dibandingkan dengan apa yang telah kamu lakukan terhadap hidupku Ndre. Semangatmu untuk menghubungi keluarga ibuku melalu kedutaan sungguh tidak ternilai harganya Ndre.

Andrea, saat surat ini sampai di tanganmu mungkin aku sudah pergi. Ingat cita-citaku yang ingin menjadi pilot? Kini tercapai Ndre, aku bisa menerbangkan pesawatku kemanapun aku mau.

Selamat tinggal Andrea. Tetaplah menjadi Andrea yang kukenal, Andrea yang pintar, cantik, dan sahabat yang setia. Capailah cita-citamu dan teruslah bermimpi seperti yang pernah kita katakan bersama-sama di atas genteng kostan waktu itu ‘capailah mimpimu dan hiduplah seakan-akan kamu sedang bermimpi’

*eh iya, jangan nikah sama cowo yang kamu taksir depan kost an ya. Dia playboy, pernah kulihat dia jalan dengan 2 cewek sekaligus di hari yang sama :p

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s