Virus Tokso itu menghampiri Adikku


Akhirnya setelah post pertama di tahun ini menetas dua hari yang lalu saya mulai aktif kembali menulis meski tidak di post secara umum. Entahlah, tapi rasanya selain mengadu pada yang di atas dan suami, menuangkannya dalam bentuk tulisan cukup melegakan hati.

Di atas adalah foto keluarga kecil saya. Papah, Mamah, dan ketiga adik saya. Orangtua saya memiliki 4 orang anak dengan jarak yang tidak cukup dekat. Pertama, saya yang dilahirkan di tahun 1993 dan 5 tahun kemudian lahir adik perempuan pertama saya. Namun ibu saya tidak cukup puas karena beliau mendambakan seorang anak laki-laki yang pada akhirnya hadir 3 tahun setelah adik perempuan saya lahir. Tahun 2009, tepatnya saat saya berumur 16 tahun keluarga kami kembali ramai dengan hadirnya adik perempuan kami (katanya, mamah tidak pernah pakai KB karna tidak cocok dan jadilah adik kami ini). Walau kehadirannya tidak diduga sama sekali, tapi ternyata bisa membuat keluarga kami makin ramai dan lebih hidup. Alhamdulillah.

Sedikit cerita untuk adik laki-laki saya satu satunya. Namanya Fadhil, nama lengkapnya Saadath Alfadhillah Gumilang. Adik saya ini lahir prematur di usia kandungan ibu saya masih 8 bulan. Menurut banyak orang, prematur di usia tersebut jauh lebih membahayakan dari usia 7 bulan, apa alasannya saya tidak tahu. Yang saya tahu, Fadhil ini dari sejak lahir sering kali masuk rumah sakit dan hingga usianya menginjak 6 bulan tidak pernah merespon siapapun yang ada di sekitarnya. Tidak pernah menangis atau tertawa, pandangannya pun tidak pernah fokus. Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata adik mengidap gejala autis. Sontak kami terkejut, terutama Mamah. Beliau terus menerus menangis dan banyak bertawakal pada Allah swt. Namun memang Kuasa Allah sangat besar, tidak berapa lama setelah itu Fadhil mengalami kejang-kejang. Sedikit lupa bagaimana saat itu, namun setelah kejadian tersebut Fadhil dinyatakan normal. Bisa tertawa, menangis dan merespon kami dengan sangat baik. Alhamdulillah, Fadhil seperti mukjizat bagi kami. Di saat orangtua khawatir karena anaknya kejang – kejang dan mengakibatkan si anak menjadi tidak normal, tetapi justru mukjizat yang datang kepada keluarga kami, adik kami Fadhil benar-benar menjadi normal. Ah rasanya bahagiaaa sekali.

Tahun demi tahun berlalu, sampai Fadhil akhirnya masuk SMA. Baru saja minggu pertama Fadhil merasakan bangku SMA-nya ia mengeluh bahwa pandangan matanya semakin menghitam seperti banyak ikan berenang di matanya, sontak kami sekeluarga kaget. Ibu saya tanpa pikir panjang langsung membawanya ke rumah sakit mata terkenal di Bandung dan Jakarta. Hasil pemeriksaan Fadhil sangat luar biasa mengejutkan, ternyata virus tokso di mata Fadhil kembali aktif. Ah saya lupa cerita, waktu SD Fadhil sempat dinyatakan terkena virus tokso di mata sebelah kanannya dan mengakibatkan ia tidak bisa melihat dengan jelas. Sedihnya adalah Fadhil sempat dibully oleh teman-teman sekolahnya. Duh, sebenarnya saya malas sekali menceritakan ini, karena saya super super menyayangi dia dan rasanya benci sekali apabila mengingat bagaimana ia dibully dulu. Singkat cerita, virus tokso tersebut dinyatakan telah hibernasi dan Insya Allah tidak akan mengganggu kesehatan Fadhil kembali. Tapi nyatanya rencana Allah tidak selesai sampai di situ.

Menginjak SMA, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya Fadhil kembali dinyatakan positif memiliki virus tokso dan setelah pemeriksaan lebih dalam hingga MRI dan check lab bisa disimpulkan bahwa virus Fadhil telah menyerang otak kanannya. Sedih? banget !! Lebih sedih lagi ketika dengan telinga saya sendiri saya mendengar dokter menjelaskan bahwa efek dari virus yang menyerang otak kanan tersebut mengakibatkan organ tubuh Fadhil sebelah kiri tidak bisa berfungsi dengan sempurna, alias stroke ringan. Parahnya lagi adalah kalau virus ini menjalar dengan cepat mungkin umur Fadhil ya… Wallahualam. Rasanya ingin menangis dan memeluknya. Ibu saya ? Ibu saya sangat tegar, walau begitu beliau seringkali menangis memikirkan Fadhil.

Saya seperti terkena tamparan berkali-kali ketika mengingat dulu Fadhil sering kali meminta saya atau adik saya yang satunya lagi membuka snack dia, katanya “tangan Fadhil lemes teh” dan saya juga adik saya cuma menanggapinya dengan “lebay banget sih Fadhil”. Kalau mengingat itu ko rasanya Ya Allah……………… sedih.. sedih.. sedih..

Tapi ini lah takdir Allah. Baik Ibu saya, Bapak saya juga saya menerima ini dengan ikhlas. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah terus menerus memberikan pengobatan yang terbaik untuknya, support yang tiada henti dan berusaha memberikan apa keinginan dia yang sebenarnya selalu dia simpan diam – diam. Kami percaya bahwa hidup dan mati di tangan Allah, begitu juga dengan kesembuhan Fadhil. Bukan tidak mungkin Fadhil akan sembuh total dan kami terus berdoa untuk hal itu. Semoga Allah mengabulkan doa kami. Aamiin.

 

*Fadhil saat ini menjalani homeschooling karena fisiknya tidak sekuat anak anak seumurannya, memang terlihat normal tapi sebenarnya Fadhil gampang sakit karena daya tahan tubuhnya kurang. Selain itu juga Fadhil ikut les musik di Purwacaraka, sebab menurut ibu saya Fadhil berkeinginan untuk menjadi penyanyi dan Ibu saya ingin menyenangkan dia. hihi semoga Fadhil senang yaaa.

Dikejar atau Mengejar Tanggung Jawab

image

Suami sakit dan seharian mikir saking nggak bisa tidurnya, padahal semaleman belum tidur tapi suami abis berobat bukannya enakan eh panas tinggi.

Gini ya rasanya nikah, punya keluarga sendiri dan harus tanggung jawab untuk apapun yang terjadi. Awal nga nge ‘iya’ in ajakan mas hadi buat nikah nggak kepikiran sama sekali sampai mesti kaya gini padahal waktu itu orang orang yang lebih tua (orangtua / sodara) udah ngingetin, “susah loh kalau udah nikah, apalagi nindy kerja, kan kewajiban utamanya sebagai seorang istri”

Dulu…
Dulu nyepelein banget dan dengan entengnya jawab “yaudahlah, hadi pasti ngerti kalau nindy meski bagi tanggung jawab antara jadi pegawai sama jadi istri atau ibu”

Dan sekarang baru tau rasanya

Sudah beberapa bulan belakangan lumayan suka ijin ke kantor, ya ngurus nikahan lah, ya ngurus pasca nikah, ijin sakit kehamilan (yang sempet bermasalah) sampai mesti working from home atau sudden leave untuk ngurus suami sakit.
Mungkin untuk orang yang cuek ini hal yang biasa ya, pasti dalam pikirannya “yaudahlah keluarga nomor satu”. Buat saya pribadi, keluarga memang nomor satu tapi ketika memutuskan untuk menjadi perempuan yang bekerja maka kewajiban sebagai pegawai pun bukan berarti disepelekan, dan ini yang susah.
seharian mikir “gimana ya kalau resign”, terus kemudian mikir lagi “sayang juga kalau resign, nanti abis resign mau ngapain? usaha sendiri belum settle banget”. Oke nggak jadi kepikiran buat jadi ibu rumah tangga atau womenpreneur lagi. Nggak berapa lama kepikiran lagi, suami sakit aja saya begininya, gimana nanti anak yang sakit. Masa iya dikit dikit saya cuti, masa iya dikit dikit saya ijin ini itu. Mungkin bos mengerti, tapi apa teman saya mengerti? belum tentu 😬

Dan ini belum seberapa, seharian saya mikir seharian itu pula saya buka banyak curhatan ibu ibu blogger yang masih aktif bekerja sementara memiliki anak batita. Waktu kerja sendiri adalah 8 am- 5 pm, sementara mulai berangkat dari rumah bisa saja jam 6 pagi, dan sampai rumah jam 7 malam (dengan estimasi rumah di pinggiran jakarta). Malamnya terjaga karena anak yang rewel minta susu atau rewel tengah malam ala anak bayi. Katanya tidur 2 jam saja sudah Alhamdulillah. Besok paginya, istri akan dihadapkan pada memasak untuk sarapan,nyiapin keperluan kerja suami, menyiapkan makanan untuk sang anak sehingga baby sitter/asisten rumah tangga tinggal memasak instan untuk si anak. Dipikir pikir, cape juga ya 😂 . Ini buka mengeluh tapi hanya “sempat terpikirkan”
Ya begitulah, saya sendiri sampai tiba di akhir tulisan ini masih bingung mau bagaimana kedepannya. Apalagi dengan segudang mimpi sebagai individu pribadi seperti sekolah lagi dan karir yang meningkat harus berbarengan dengan keinginan yang tinggi pula sebagai istri dan ibu yang baik.
Wallahualam, pada akhirnya manusia hanya bisa berencana dan Allah swt pula lah yang menentukan.

ps : tulisan ini dibuat sambil sedikit sedikit melirik ke suami yang masih tertidur pulas, cepet sembuh suami aku 😘

Jakarta, 27 July 2016