Dikejar atau Mengejar Tanggung Jawab

image

Suami sakit dan seharian mikir saking nggak bisa tidurnya, padahal semaleman belum tidur tapi suami abis berobat bukannya enakan eh panas tinggi.

Gini ya rasanya nikah, punya keluarga sendiri dan harus tanggung jawab untuk apapun yang terjadi. Awal nga nge ‘iya’ in ajakan mas hadi buat nikah nggak kepikiran sama sekali sampai mesti kaya gini padahal waktu itu orang orang yang lebih tua (orangtua / sodara) udah ngingetin, “susah loh kalau udah nikah, apalagi nindy kerja, kan kewajiban utamanya sebagai seorang istri”

Dulu…
Dulu nyepelein banget dan dengan entengnya jawab “yaudahlah, hadi pasti ngerti kalau nindy meski bagi tanggung jawab antara jadi pegawai sama jadi istri atau ibu”

Dan sekarang baru tau rasanya

Sudah beberapa bulan belakangan lumayan suka ijin ke kantor, ya ngurus nikahan lah, ya ngurus pasca nikah, ijin sakit kehamilan (yang sempet bermasalah) sampai mesti working from home atau sudden leave untuk ngurus suami sakit.
Mungkin untuk orang yang cuek ini hal yang biasa ya, pasti dalam pikirannya “yaudahlah keluarga nomor satu”. Buat saya pribadi, keluarga memang nomor satu tapi ketika memutuskan untuk menjadi perempuan yang bekerja maka kewajiban sebagai pegawai pun bukan berarti disepelekan, dan ini yang susah.
seharian mikir “gimana ya kalau resign”, terus kemudian mikir lagi “sayang juga kalau resign, nanti abis resign mau ngapain? usaha sendiri belum settle banget”. Oke nggak jadi kepikiran buat jadi ibu rumah tangga atau womenpreneur lagi. Nggak berapa lama kepikiran lagi, suami sakit aja saya begininya, gimana nanti anak yang sakit. Masa iya dikit dikit saya cuti, masa iya dikit dikit saya ijin ini itu. Mungkin bos mengerti, tapi apa teman saya mengerti? belum tentu 😬

Dan ini belum seberapa, seharian saya mikir seharian itu pula saya buka banyak curhatan ibu ibu blogger yang masih aktif bekerja sementara memiliki anak batita. Waktu kerja sendiri adalah 8 am- 5 pm, sementara mulai berangkat dari rumah bisa saja jam 6 pagi, dan sampai rumah jam 7 malam (dengan estimasi rumah di pinggiran jakarta). Malamnya terjaga karena anak yang rewel minta susu atau rewel tengah malam ala anak bayi. Katanya tidur 2 jam saja sudah Alhamdulillah. Besok paginya, istri akan dihadapkan pada memasak untuk sarapan,nyiapin keperluan kerja suami, menyiapkan makanan untuk sang anak sehingga baby sitter/asisten rumah tangga tinggal memasak instan untuk si anak. Dipikir pikir, cape juga ya 😂 . Ini buka mengeluh tapi hanya “sempat terpikirkan”
Ya begitulah, saya sendiri sampai tiba di akhir tulisan ini masih bingung mau bagaimana kedepannya. Apalagi dengan segudang mimpi sebagai individu pribadi seperti sekolah lagi dan karir yang meningkat harus berbarengan dengan keinginan yang tinggi pula sebagai istri dan ibu yang baik.
Wallahualam, pada akhirnya manusia hanya bisa berencana dan Allah swt pula lah yang menentukan.

ps : tulisan ini dibuat sambil sedikit sedikit melirik ke suami yang masih tertidur pulas, cepet sembuh suami aku 😘

Jakarta, 27 July 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s