Menuju Cinta Karena Allah 


hellow.. (bersihin sarang laba-laba di pojokan blog, kemoceng mana kemoceng ehehhe)

Huft, udah lama juga nggak ngeblog lagi. Maapin frozen ya fans (sungkem) hahaha siapa juga yang nyariin woy, yang baca aja belum tentu ada. Doh.

Jadi ceritanya kali ini saya mau cerita tentang bukunya teman saya himsa. Himsa ini teman kuliah saya dulu, satu jurusan dan satu peminatan. Sama-sama senang menulis dan membaca juga punya cita-cita yang sama yaitu penulis, tapi sayangnya beda nasib eheheheee Himsa akhirnya jadi penulis, sementara saya masih jadi kuli ibukota dan part time penulis, menulis bahan belanjaan buat titipan ke suami hahaha.

Buku yang baru saya terima ini adalah karya ketiganya, Judulnya “Cinta yang Baru”. Dari cover aja udah bikin pengen beli, sepasang sendal jepit yang kemudian bikin saya menerka-nerka apakah filosofinya sama seperti lagu Sepatu- Tulus. Well, baca dulu lah kalian biar tau jawabannya. Beli ya, jangan minjem. Ehehehehe.

Ada banyaaaaaaak banget tulisan-tulisan Himsa di buku ini yang bikin saya selalu bilang “Lah ini gue banget!” atau “Nah kan bener kan”. Jadi sebenernya, niat nulis kali ini bukan semata mata ngereview buku Himsa sih, lebih tepatnya sekalian curcol hahaha.

Buku ini berkisah tentang kisah  Himsa dalam mendapatkan ridho-Nya. Tentang bagaimana memanajemen perasaan. Karena buku ini datang di malam hari tepatnya saat saya dan suami sudah berpiyama cantik (baca : dasteran) dengan alasan sang akang JNE lupa ngirim paket saya (bahkan akangnya udah pake baju rumahan dong hahaha) maka jadilah saya tidak jadi tidur dan memilih untuk membaca buku ini sampai selesai saat itu juga. Sementara suami juga ikut nggak jadi tidur dan buka laptop hahaha.

Dan ketika sudah sampai di halaman terakhir saya jadi mesem mesem sendiri, inget jaman-jaman pacaran dulu sama suami. Kebetulan, kami sudah berpacaran selama 6,5 tahun sampai akhirnya memutuskan untuk menikah. Melalui buku Himsa juga saya dibuat ingat terhadap tujuan saya dan suami menikah dulu. Keinginan kami untuk menikah seperti terjadi begitu saja, sebetulnya sih tida terlalu begitu saja hahaha. Suami saya sudah melamar saya tepat setelah saya lulus kuliah, tepat saat saya dapat pekerjaan pertama saya. Alasannya saat itu adalah tidak baik terlalu lama pacaran apalagi saat itu saya sudah mendapat pekerjaan dan suami pun merasa sudah cukup bisa bertanggung jawab untuk saya, iya waktu itu suami saya sedang perjalanan menjadi Hamba Allah yang lebih baik lagi jadi dia berpikiran kenapa tidak untuk segera menikah yang kemudia saya tolak dengan halus, alasan saya sederhana, saya masih ingin bersama keluarga saya setelah 3,5 tahun merantau. Saya masih ingin bisa bebas ‘menjajani’ orangtua dan adik-adik saya. Suami saya pun menerimanya dengan ikhlas.

Waktu demi waktu berlalu, setahun sudah saya bekerja bahkan sudah berpindah kerja ke tempat yang lebih baik lagi. Masih ingat sekali waktu itu sekitar bulan Februari 2015 dan saya menyatakan bersedia untuk dinikahi. Tanpa buang waktu lama lama, kami melakukan acara lamaran di bulan April sekaligus menetapkan tanggal pernikahan kami yang waktu itu direncanakan akan terselenggara pada 3 Oktober 2015. Kami pun mulai bersiap-siap mengurus ini itu. Awanya terasa ringan seperti mengangkat satu kerikil di genggaman tangan, ah cuma ngurus catering, baju pengantin, seragam saudara-teman, souvenir dan undangan. Namun pada prakteknya semua tiba-tiba terasa berat. Kalau kemarin seperti membawa satu kerikil, lambat lauun saya seperti membawa banyak kerikil yang membutuhkan bantuan orang lain untuk membawanya. Tidak bisa dihindari, pertengkaran pun terjadi. Tidak hanya antara saya dan sang calon suami, tapi juga merembet ke keluarga besar. Rasanya saat itu seperti ingin membatalkan pernikahan dan putus saja agar masalah cepat selesai. Tapi nyatanya tidak segampang itu.

Kemudian suatu waktu saya dan sang calon suami berkunjung ke rumah tante untuk membicarakan masih seputar pernikahan. Di sela-sela pembicaraan kami tante saya kemudian bertanya “Memang tujuan teh Nindy sama ka Hadi menikah karena apa?”. Deg. Pertanyaan yang tidak mampu saya jawab saat itu juga tapi dengan lantang dijawab dengan si calon suami dengan “untuk mencari ridho Allah tant”. Saat itu saya hanya tersenyum. Salah tingkah karena selain mau tidak mampu menjawab pertanyaan seringan itu dan malu sama diri sendiri, kenapa saya tidak mampu menjawabnya.

Beberapa hari setelahnya saya jadi tidak tenang, bertanya pada diri sendiri kenapa saya mau menikah dengannya dan kenapa saya mengiyakan ajakannya untuk menikah bukankah mimpi saya masih banyak, masih ingin melanjutkan sekolah lagi dan masih ingin meniti karir. Hubungan dengan calon suami pun jadi renggang, sepanjang jalan pulang (kebetulan kantor kami berdekatan dan pulang pun searah) kami kebanyakan diam, dengerin radio atau sesekali bahas pekerjaan. Pernikahan? semacam sesuatu yang justru kami hindari, emm lebih tepatnya saya. Dan itu berlangsung sampai H-3 minggu menuju pernikahan kami. Nekat? Emang! Gila? Banget!!.. Di saat orang lain justru mencoba untuk memantapkan hati untuk menentukan mau dibawa kemana hubungannya saya justru menjalaninya dengan ‘let it flow’ saja karena saya percaya Allah SWT akan selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya. Nah, tepat H-3 minggu itulah ada salah seorang teman saya menepuk pundak saya di saat kami sedang berjalan pulang dari kantor ke gerbang belakang “woy lo napa senyum-senyum sendiri”, dan dengan reflek saya menjawab “hehe seneng mau dijemput Hadi”, saat itu juga saya tersentak.. hah kenapa saya senang ketemu dengan Hadi, calon suami saya, kenapa saya sebegitu sumringahnya. Kemudian sambil menunggu Hadi yang tidak kunjung datang saya kembali mengingat hubungan saya dengan dia, jatuh bangunnya, ketawa nangisnya sampai ada satu titik dimana saya sadar saya sudah jatuh ke dalam hatinya. Tepat di H-3 minggu sebelum pernikahan saya. Saya jatuh cinta. Bukan cinta yang menggebu namun aaah apa ya namanya, ya semacam itu lah hahahaha sulit untuk dijelaskan. Allah memang Kuasa, Ia mampu membolak balik hati manusia dan ketika ridho telah diberikan maka perasaan Cinta kepada-Nya yang kita rasakan. Begitu besar hingga tidak kita sadari bahwa kita sedang jatuh cinta karena-Nya dan kepada-Nya.

“Pasrah pada-Nya. Minta hanya pada-Nya. Belajar semakin dalam mengenal-Nya. Karena dengan semakin mengenal Allah, kita akan tau hakikay menerima. Begitulah kami saling mengenal. Biar Allah yang bertanggung jawab soal cinta. Tugas kita adalah rido dengan ketentuan-Nya, agar ridho kita dapatkan”

Pernikahan pun terjadi dengan segala macam bumbu di dalamnya, bahkan sisa bumbunya masih melekat sampai saat ini ehehehe tapi nggak apa apa, saya ikhlas. Apapun yang terjadi di dalam hidup saya sudah dalam kuasa-Nya, Allah SWT adalah maha kreator di hidup ini, mau jadi apa saya, mau seperti apa saya adalah kuasa-Nya. Dan saya meyakini itu hingga saat ini. Pernikahan yang masih seumur jagung ini benar-benar seperti ‘rollercoaster’, naik turun bikin jantungan. Yang orang tahu saya sebahagia apa yang saya tampilkan di socmed, ya memang saya bahagia tidak banyak sedih atau menangis. Tapi kan bukan berarti tidak sama sekali ya haha, saya pernah menangis sambil mengiris bawang, sambil mandi, saat nonton tv atau seperti ini sibuk dengan laptop. Bukan karena tidak bahagia, tapi percayalah.. menyatukan dua kepribadian yang berbeda itu susah banget hahaha makanya suka salut sama yang taaruf atau semacamnya, kita yang udah kenal selama lebih dari 6 tahun aja masih suka susah untuk memahami satu sama lain apalagi taaruf yang mungkin kenal seadanya dan saling memahami melalui proses proposal atau pihak ketiga (mediator). Apalagi betul kata himsa, menikah itu bukan tentang menikahi satu orang saja yang kelak menjadi pasangan kita tapi kita pun akan menikahi keluarganya, masa lalunya, pekerjaannya dan lain-lain yang terlah terikat dengannya. Dan itu hal tersulit dalam pernikahan saya hahaha.

Tapi Alhamdulillah, seiring berjalannya kehidupan pernikahan kami maka semakin banyak pula saya belajar. Belajar menjadi istri, belajar menjadi ibu, belajar untuk lebih sabar, lebih ikhlas, lebih ‘legowo’, lebih dewasa, lebih pintar memanajemen hati dan harapan. Yup, manajemen hati dan harapan, jauh sebelum saya membaca buku himsa saya selalu menerapkan proses pembelajaran ‘manajemen hati’ dalam hidup saya kalau manajemen harapan jelas aya mengetahuinya dari buku Himsa ini. Pembelajaran in terjadi begitu saja seiring dengan banyak nya masalah yang kian datang di kehidupan pernikahan kami. Betul kata pepatah semakin banyak masalah semakin kita pintar. Untuk saya, pintar memanajemen hati. Definisinya sederhana, saya tidak pernah terlalu senang terhadap sesuatu tidak juga terlalu sedih berlarut-larut. Ketika cobaan datang menghampiri saya mungkin akan menangis meraung-raung kemudian sholat dan mengelus dada saya sendiri sembari berucap “nindy sabar, jalani dan lewati, apa yang terjadi adalah kehendak-Nya” percaya atau tidak hati saya lapang karenanya.

Sekarang saya jauh lebih berbeda, sama seperti Himsa yang ambisius memiliki banyak mimpi dan kemudian memiliki suami seperti Mas Anggi yang mampu ‘menuntun’ Himsa seperti itulah saya sekarang. Saya yang dulu sangat ambisius dengan segala mimpi dan target saya lambat laun mulai mengerti bahwa mimpi tidak selalu berjalan dengan cepat, target tidak selalu tepat waktu tapi Allah akan memberinya di waktu yang tepat. Banyak yang lulus S1, kemudian melanjutkan S2 langsung. Ada juga yang proses nya S1-Kerja 1 atau 2 tahun-Lanjut S2, atau Lulus S1-menikah-S2- punya anak, atau juga S1-Kerja-Menikah-Hamil- S2. Semua itu hanya tentang waktu.

Terakhir, mengutip tulisan yang Himsa muat di bukunya.

 “Bahwa mimpi itu tak melulu soal hasil, tapi juga menerima apapun hasil dari apa yang kita upayakan. Maka hari itu aku benar-benar sadar. Bagi pemimpi sejati, proses mengupayakan impian itu jauh lebih agung darpada hasil dari impian itu sendiri”

Percayalah, saya pernah gagal bahkan sering. Gagal mendapatkan SMA favorit, gagal mendapatkan sekolah kedinasan favorit (sudah text 2x), gagal mendapatkan beasiswa (sampai test 3x), gagal mendapatkan pekerjaan di perusahaan ternama (emm kayanya lebih dari 3x test hehe), gagal dalam mengikuti lomba (tidak terhitung), dan banyak kegagalan lainnya yang setelah saya pikir-pikir saya tetap bangga pada diri sendiri. Kenapa? karena dengn begitu banyak kegagalan yang saya alami saya tidak pernah menyerah, saya sama seperti Himsa dan orang lainnya yang beranggapan bahwa ‘Kegagalan adalah kemenangan yang tertunda’.

*Himsa, sekali lagi selamat untuk karyamu yang ketiga. AWESOME !
Bekasi, 21 Feb 2017