2017

Di penghujung 2017 ijinkan saya mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada setiap orang yang berada di lingkungan saya. Dari keluarga kecil saya yang superrr, keluarga besar saya beserta keluarga suami, sahabat-sahabat terdekat, teman di line, whatsapp, grup SD-grup SMP-grup SMA-grup Kuliah, teman kantor, hingga teman Facebook, twitter dan follower Instagram saya hingga orang-orang yang tidak sengaja bertemu atau dipertemukan dalam perjalanan kerja, terimakasih karena sudah memberikan banyak cerita di tahun 2017.

Bisa dikatakan 2017 ini adalah tahun dimana saya secara fisik dan batin ditempa terus-terusan namun juga diberi kebahagiaan serta keberkahan terus menerus oleh Allah swt. Dari munculnya anak pertama saya di penghujung 2016, masalah keluarga yang luar biasa menguji lahiriah dan batiniah, proses pemulihan hati dari sakit yang luar biasa hingga proses menghadapi kegagalan. Yang kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya tidak ada achievement atau pencapaian luar biasa yang saya dapat, tapi Alhamdulillah ada hal lain yang justru saya dapatkan dan menurut saya jauh lebih berharga dibanding apapun.

Proses Pendewasaan dan Menerima.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, 2017 ini luar biasa struggle untuk saya, dari baby blues, hingga masalah keluarga yang tidak berhenti sampai di pertengahan 2017, tidak hanya fisik yang luar biasa turun secara drastis tapi juga batin. Dalam 2 bulan berat badan turun sebanyak 15kg, jikalau ini terjadi di saat saya sedang diet oh saya sungguh senang tapi ini berbeda. Masalah-masalah tersebut luar biasa menguras energi, hingga keluar tangis yang terus-terusan dalam 2 bulan. Tapi siapa sangka, kasih sayang Allah swt justru sangat terasa dan dekat.

Cuti kelahiran selama 4 bulan saya manfaatkan untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, saya sadar tidak ada hal lain yang bisa memulihkan sakit hati saya selain Allah Swt, tidak ada hal lain yang bisa membuat saya tenang selain pertolongan Allah swt. Di tahun ini lah saya mulai menyadari bahwa Allah begitu dekat dengan saya, hadir di setiap hembusan nafas saya. Lebay? saya rasa tidak. Kasih sayang dari orang-orang terdekat, nasihat hingga teguran saya yakini sebagai bentuk pertolongan Allah swt. Saya tahu betul hati ini perlu dibimbing.
Hingga detik ini saya menulis pun saya masih kagum dengan diri saya, saya tidak menyangka bahwa saya masih berdiri tegak seperti sekarang ini, melewati kerikil demi kerikil yang mempengaruhi jalan hidup saya, saya tetap di pendirian saya bahwa suatu saat nanti kerikil-kerikil inilah yang akan membuat saya bisa lebih kuat dan tegap dalam menghadapi hidup. In-Syaa Allah.

Di tahun 2017 ini saya banyak belajar akan diri saya dan kehidupan yang saya jalani, saya belajar apa dan bagaimana ‘Ikhlas’ bekerja, saya belajar apa dan bagaimana ‘Menerima’, juga saya belajar untuk Pasrah.
Meski rumus Niat – Ikhtiar – Berdoa – dan Pasrah tidak luput dalam proses pembelajaran hidup saya, tidak bisa dipungkiri bagian Pasrah adalah hal terberat yang saya jalani, saya seringkali kecewa ketika hasil tidak melulu seperti yang saya harapkan. Itulah kenapa terkadang saya berhati-hati dalam melangkah, hanya karena saya takut menghadapi kegagalan.
Tapi Allah membuka jalan saya, Allah hadirkan serentetan pengalaman hidup yang luar biasa di tahun 2017 ini. Saya merasakan takut, sedih, marah, senang, bahagia, tertawa yang sangat super sampai saya tiba di suatu kesimpulan yang sangat sederhana, saya bisa bahagia di saat orang-orang di sekitar saya bahagia. Saya bisa tersenyum hanya dengan melihat pedagang es cincau yang terlihat sepi pembeli kemudian ada yang beli, saya bisa tersenyum dan terharu di saat bersamaan hanya karena Shaka anak saya memeluk erat saya dan menghujani muka saya dengan ciuman kecilnya, atau saya bisa sangat tersenyum dan bahagia saat saya melihat ketulusan suami saya dalam menyayangi saya dan orang tua saya. Ini yang saya baru sadari, masalah – masalah hidup saya tiada artinya jika ternyata saya bisa bahagia dengan hal-hal yang sederhana.

 

Ya, 2017 memberikan banyak arti untuk saya. Tidak hanya proses pendewasaan diri tapi juga mendekatkan diri pada Allah swt, terimakasih Ya Allah, terimakasih..
Akhir kata, semoga di 2018 saya akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah yang tertunda. In-Syaa Allah.

*tanpa bermaksud merayakan tahun baru masehi melebihi kewajiban saya yang seharusnya lebih berpedoman pada tahun baru Islam, ijinkan saya mengucapkan > Halo 2018!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s