Akhir Kisah yang Tidak Berawal

Ini bukan lagi tentang hati yang menyimpan rasa terlalu lama, tetapi ini tentang kejujuran yang terpendam setelah sekian lama..

**

Kayanya anak lo mirip bapaknya ya dibanding lo hahahah peace nin

Sebuah DM (direct message) di Instagram muncul di notif smartphone gue, satu kalimat yang membuat hati gue nggak karuan selama seharian setelah gue buka isinya. Yang kemudian hanya gue balas dengan..

Sial, numpang rahim doang doi di gue hahaha eh apa kabar loo

Besoknya, yang justru sialnya di saat gue udah lupa tentang DM dia ke gue kemarin eh malah muncul balasan dari dia

Baeeek, lo sendiri apa kabar? Gila ya udah punya anak aja sih lo, lah gua gini gini aja

Shit, dia bales lagi. Dan eh, aduh aduh ada laki gue, aduh pusing gue .. ini gue selingkuh apa gimana sih astagaaa kok gue takut gini.

“sayang, kamu lagi liat resep ya? Kok masaknya sambil liat hp sih” tanya Bara yang sambil mendekati gue dengan boxer tipisnya.

“haha iya sayang, kamu tau aja” meeen untung gue biasa megang hp pas masak, mampus gue

“kamu ih pake boxer doang gitu mentang mentang Alde di rumah neneknya” lanjut gue ngaduk ngaduk aglio lio yang udah hampir matang itu sambil mengeluarkan Instagram pakai mode cepat di smartphone gue dan menaruh hp di kantong celana.

Tiba-tiba aja Bara meluk gue dari belakang sambil mencium pipi gue. Hening. Kita berdua terdiam, hanya ada suara kuali yang beradu dengan teplon berisi aglio lio kesukaan suami gue, Bara. Gue selalu suka gestur Bara yang seperti ini, yang tiba tiba meluk gue, diam dalam waktu lama kemudian disudahi dengan mengecup kening gue sambil bilang “Sayang kamu banget”.

“kamu kan udah tau resep aglio lio sayang, kok masih liat resep aja sih?” tanya Bara tanpa melepaskan pelukannya dari gue

“aku lagi nyoba bahan baru sayang, kan kemarin pakai lada biasa, kali ini aku mau coba lada hitam kaya di resto-resto gitu” jawab gue yang emang kebetulan emang baru pertama kali nyoba lada hitam ini

“ohh, okay. So, kapan jadinya? Aku udah laper hehe”

“sabar sayang, ini udah mau selesai kok. Udah ah kamunya awas dulu, sana pake baju dulu, gosok gigi baru balik ke sini. Jorok ih baru bangun langsung cari makanan” jawab gue sambil melepaskan pelukan Bara dan mendorong kecil seakan menyuruh dia pergi dari dapur itu.

“iya iya aku gosok gigi dulu ya, kamu yang cepet nyeleseiinnya”

Bara kemudian pergi menghilang dari dapur.

Ah paling udah ke kamar mandi, ini saatnya gue ngehapus DM-an gue sama Arga.

Iya, Arga Prawira namanya.

Laki – laki yang pernah sesaat mengisi salah satu ruang di hati gue di saat gue justru sedang mempersiapkan pernikahan dengan Bara, suami gue sekarang.

Tapi Arga nggak pernah tau, karena saat itu yang gue dan Arga tau kami hanya berteman. Tapi kelewat nyaman.

**

Sya, gue udah di Market Bar ya bilang aja ke waitressnya atas nama Arga

Well, akhirnya gue melanjutkan percakapan gue dengan Arga sejak saat itu, yang tentunya gue lakukan saat Bara nggak di samping gue. Entah gue sedang di kantor atau gue di rumah tapi Bara sedang tidak di rumah. Dan gue nggak selingkuh beneran dengan Arga, percakapan kami layaknya teman lama yang sudah lama tidak bertemu, kita berbicara banyak hal yang berkaitan dengan masa lalu kita berdua. Masa yang menyebabkan gue menaruh hati padanya, masa di mana gue tanpa sadar berselingkuh hati dari Bara yang bahkan sampai dengan saat ini Bara tidak pernah tahu. Bara hanya tahu gue pernah dekat dengan Arga sebagai teman.

Bukan tanpa alasan kalau pada akhirnya gue dekat dengan Arga, seperti yang sudah gue ceritakan, gue dengan Arga dekat di saat gue justru sedang mempersiapkan pernikahan gue dengan Bara. Hubungan gue dengan Bara memburuk karena banyaknya masalah yang timbul dari kedua belah pihak keluarga mengenai konsep pernikahan, ditambah dengan Bara yang saat itu sedang tugas di luar negeri membuat komunikasi gue sangat tidak baik dengan Bara, dan Arga hadir di hidup gue. Gue kenal Arga dari temen gue yang notabene temennya Arga juga, kami langsung akrab saat itu, jalan bareng, nugas kuliah bareng (yup, gue menikah dengan Bara di usia muda) bahkan sampai hangout bareng. Jogja saat itu jadi saksi kedekatan gue dengan Arga. Sampai akhirnya… Arga tahu bahwa gue sudah mempunyai tunangan dan akan menikah dalam waktu dekat, semenjak saat itu hubungan gue menjauh dengan Arga. Tidak seintens dulu lagi, tidak ada lagi Arga yang tiba-tiba datang ke kostan gue membawa banyak cemilan. Semua berangsur hilang. Dan di saat gue menanyakan kabar dia, dia masih seperti yang dulu menjawab chat gue dengan ceria tapi dengan sejuta alasan kenapa saat itu dia sudah tidak pernah lagi datang menghampiri gue.

Di saat yang bersamaan hubungan gue dan Bara membaik, persiapan pernikahan pun berjalan lancar. Tapi di sisi lain hati gue berontak, karena ternyata gue kangen Arga..

Sampai akhirnya pernikahan gue pun terlaksana dan sekarang gue udah mempunyai anak berumur 5 tahun, seorang anak laki-laki tampan, setampan bapaknya.

DM kemarin dari Arga membangkitkan kembali rasa itu, rasa yang gue yakini sebagai perasaan suka atau bahkan itu cinta? Berhari-hari gue memikirkan ini. Apa ini perasaan cinta atau hanya rasa penasaran. Jujur gue gamblang dengan itu, penasaran? Rasa macam apa pula itu. Tapi seorang teman baik gue dulu di kuliah pernah bilang “kadang, kita salah menafsirkan perasaan kita sendiri. Kita bilang kita suka, kita cinta. Nyatanya setelah kita mendapatkan apa yang kita suka dan apa yang kita cinta perasaan menggebu itu hilang begitu saja, padahal awalnya begitu bergejolak dan ingin memiliki. Kalau begitu, itu hanya penasaran saja”. Dan kali ini gue ingin membuktikan perasaan gue, perasaan yang nggak mau gue pendem begitu aja dan membiarkan perasaan bersalah gue terhadap Bara juga Alde anak gue kian membesar. Maka gue putuskan hari ini bertemu dengan Arga berhubung Bara sedang tugas ke Kanada.

“heh! Bengong aja, hati-hati kesambet bencong sini lho” sapa gue pertama kali saat melihat Arga yang lagi melamun ke lantai bawah.

“eh Syaa, udah lama? Duh sorry sorry gue sampai nggak sadar lo udah dateng” jawab Arga sambil merapikan mejanya yang berantakan dengan 2 smartphone plus rokok mentolnya

“nggak kok baru hehe yaampun Ga berapa tahun sih kita nggak ketemu, kok badan lo jadi sixpack gini”

Dan percakapan kami pun terus berlanjut sampai tidak sadar kita sudah menghabiskan 5 jam di sana bukan hanya membicarakan tentang kita berdua tapi percakapan itu berubah menjadi kabar teman-teman yang kita berdua saling kenal sampai ke rencana masing-masing kedepannya. Dan dari percakapan itu pula gue akhirnya tahu kalau Arga ternyata single, dia sudah lama putus dari pacarnya yang juga teman kuliah gue.

“Ga, udah malem nih gue mau pulang ya. Supir gue kasian ditunggu sama anak istrinya hehe”

Arga melihat jam tangannya “lho udah jam berapa sih sekarang, eh astaga Sya ini udah malem banget. Sorry ya sorry gue nggak sadar ngobrol sama lo bisa sampai lupa waktu gini”

“hehe nggak apa-apa, tapi sebelum gue pulang ada yang mau gue omongin Ga” gue sambil mengangkat tangan gue pada waitress di pojok Bar, menandakan bahwa gue meminta Bill nya untuk gue bayar

“mau ngomong apa Sya? By the way gue aja yang bayar, gue dapat promo member kok” tanya Arga pelan, gue bisa lihat ada perubahan di gestur tubuhnya. Matanya menatap gue, dan gue nggak tau apa maksud dia seperti itu

“oh oke.. mm.. Ga, gue tahu ini nggak etis. Gue tau ini bukan waktu yang tepat dan gue harap hubungan pertemanan kita nggak berubah ya”

“…e.. okay”

“Jujur Ga, gue pernah suka sama lo waktu kuliah dulu. Gue tau gue salah, gue udah punya Bara saat itu dan bahkan gue udah mau menikah. Tapi gue nggak tau kenapa waktu itu bisa suka sama lo, gue kehilangan lo waktu lo tiba-tiba ngejauh dari gue. Gue sedih banget tapi akhirnya gue sadar gue udah punya tunangan dan gue bisa menghilangkan rasa suka gue sama lo. Dan malem ini.. gue mau coba jujur sama lo, karena sejak lo DM kemarin perasaan gue nggak menentu gue pengen menyelesaikan ini, menyelesaikan perdebatan hati gue sendiri. Menyelesaikan sesuatu yang bahkan nggak pernah kita mulai, karena ini tentang perasaan gue, hati gue. Sorry ya Ga, sorryuntuk kejujuran ini” dan gue udah kehabisan kata kata, gue mulai menangis setelah bicara panjang lebar

“gue.. gue.. gue cinta sama Bara Ga tapi gue nggak tau ini perasaan apa” tambah gue sambil terus mengelap air mata yang jatuh di pipi gue

“tapi hati gue lega Ga, hati gue lega karna akhirnya lo tau perasaan gue hehe mungkin ini cuma rasa penasaran kali ya Ga. Sorry untuk ini dan gue harap lo bisa ngelupain kebodohan gue barusan hehe” lanjut gue yang udah mulai tenang.

Benar ternyata, perasaan itu bukan suka atau cinta atau bahkan sayang, gue hanya penasaran. Gue penasaran dengan Arga yang sifatnya 180 derajat beda dengan Bara. Begitu gue lepasin semuanya hati gue terasa plong, lega…

Tapi kemudian perasaan itu hanya timbul sebentar, sampai akhirnya Arga mengatakan yang seharusnya ia simpan sendiri saja. Karena..

“Sya, makasih ya” jawab Arga setelah sekian lama diam

“makasih untuk apa Ga? Jujur dan mempermalukan diri gue kaya tadi gitu ? hehe”

Arga menggeleng dan menggengam tangan gue

“bukan, gue cuma mau bilang makasih karena ternyata cinta gue waktu itu ke lo nggak bertepuk sebelah tangan. Gue suka sama lo Sya saat itu, gue sayang sama lo banget. Dan begitu gue tahu kalau lo udah bertunanga bahkan mau menikah, hati gue sakit Sya. Gue bener-bener nggak bisa jauh dari lo, tapi gue sadar diri. Gue sadar kalau gue nggak bisa ngisi hati lo sepenuhnya, karena menurut teman-teman hubungan lo dan Bara udah sekian lama. Gue mundur Sya waktu itu, gue nggak mau merusak hubungan pertemanan kita. Awalnya gue kira gue bisa, ternyata nggak. Dan gue mutusin untuk menghilang dari lo. Gue minta maaf ya Sya”

Dan gue nggak tau lagi apa yang terjadi setelah itu, karena begitu gue sadar dari rasa shock gue, gue sudah ada di dalam kamar tidur gue. Yang gue ingat, setelah Arga mengutarakan isi hatinya gue menangis kencang dan melepaskan genggaman Arga dari tangan gue.

Sebelum pulang, gue sempat mendengan Arga berkata “lo bener Sya, hari ini kita harus mengakhiri sesuatu yang bahkan belum sempat kita mulai. Dan itu sakit rasanya Sya”

Gue pun berlari meninggalkan tempat itu, gue menelepon supir gue untuk menjemput di lobby. Sepanjang perjalanan gue cuma bisa menangis, menangisi kebodohan gue.