Mamak galau (1)

Akhir-akhir ini mama shaka (hazek) yang selanjutnya akan disebut sebagai masha alias mama shaka lagi gundah gulana atau yang orang kenal sebagai gelisah atau juga ya sebutan masa kininya galau. Hahaha sebelum ngelanjutin kenapa galau, geli sendiri ya nyebut diri sendiri ‘mama shaka’, kalau di sunda mah asa kumaha kitu wkwk.

Iya galau, beberap minggu lagi yang bahkan udah bisa dihitung pake hari masha bakal masuk kantor/ Kerja lagi, pergi pagi dan pulang malem lagi. Jamannya single sih nggak begitu suka,soalnya waktu sama keluarga kurang, begitu udah nikah ya biasa aja soalnya Suami juga suka pulang malam jadi ya daripada sendiri di rumah kan mendingan ikut pulang malam. Nah sekarang udah ada 1 krucil yang nunggu di rumah. Hampir 4 bulan ngasuh Shaka sendirian jadinya kaya ada yang aneh meski cuma sejam dua jam doang ninggalin Shaka kaya waktu ninggalin Shaka buat ke nikahan teman kemarin. Nah 2 minggu lagi masha bakal ninggalin Shaka minimal 13 jam seharinya. Kan sediiiiihhh. Gimana doong :(. Jadi aja sekarang dikit-dikit peluk Shaka, pas tidur siang juga maunya shaka tiduran di pelukan Masha kecuai malam karna takut nggak sadar Shakanya ketutup hidungnya. Meski sekarang ada mba yang nanti bakal jagain Shaka, dan harusnya udah dikasih ngasuh Shaka dari kemarin-kemarin supaya terbiasa tapi tetep aja Masha sedih kalau Shaka harus diurus sama orang lain. Duh.

Eh tapi selain hal di atas ada lagi sih yang lebih bikin galau, yaitu maraknya pemberitaan mengenai penculikan anak akhir-akhir ini. Gila sih ya, dari mulai penjualan bayi, penculikan anak yang berakhir dengan penjualan organ-organ anak kecil yang diculik tersebut sampai yang menjijikan kaya pedofil yang berkeliaran bebas. Ya Allah gimana nggak galau coba mamak-mamak satu ini. Meski katanya cluster tempat kita tinggal ini sangat aman dengan óne gate system’ dan security yang jumlahnya seabrek tetep aja serem huhu. Untungnya tinggal deket sama neneknya sih, jadi masih bisa minta tolong neneknya nengokin kadang-kadang hehehe Insya Allah kuat ya ninin, nuhun ya niniinn, ninin yang ngoboy pulang pergi Bandung nyetir mobil sendiri wkwkw.

Kembali ke topik, sebenernya galaunya udah tingkat tinggi banget sampai kepikiran buat resign (yakaliii) tapi sayang. Trus ntar kalau resign mau apa, nah jadilah dari kemarin iseng-iseng jualan reseller atau dropship gitu itung-itung ngisi waktu luang sambil belajar usaha lagi karena udah lama nggak jualan haha. Niat awal sih profit nya bisa buat modal bikin usaha sendiri jadi nggak akan reseller atau dropship lagi eh apa daya pemirsaaaaa mamak mamak ini mata sama tangannya gatel banget kalau udah buka online shop yang berjamur di Instagram atau e-commerce yang lagi marak di Indonesia ini. Alhasil bukannya bikin usaha baru malah mau beli lemari baru buat barang-barangnya Shaka yang udah overload huhu. Jadilah sekarang belum kepikiran lagi kedepannya mau ngapain haha, tetep sih pengennya jadi mompreneur aja (hazek) jadi punya pendapatan iya, bisa ngurus anak juga iya. Duhhh doain dong pemirsa (macem ada yang baca aja).

Kadang mikir gitu lho, gue kerja kan niatnya buat anak nah mulai dari sekarang suka ngajak ngobrol shaka  kalau mamanya bentar lagi kerja jadi Shaka jangan rewel dll soalnya mamanya juga kerja buat Shaka, buat sekolahnya Shaka nanti juga fasilitas Shaka lainnya. Eh tapi setelah dipikir-pikir gue kok kaya ngebohongin diri sendiri gitu ya, soalnya jauh di dalam hati gue ya gue kerja karena untuk pembuktian diri, ini lho gue bisa kerja, gue bisa punya pendapatan sekian dan jabatan begini (ya ini masih ambisi sih sekarang mah belum jadi apa-apa) atau gue bisa jadi ini jadi itu ya semacam kepuasan tersendiri gitulah kalau bisa dapet itu semua tapi ya balik lagi kalau tujuannya untuk masa depan Shaka atau adik-adiknya nanti (cailah) suami juga Insya Allah masih bisa mencukupi. Kaya pepatah bilang, Allah itu selalu memberikan umatnya rejeki untuk hidup cukup tapi nggak akan pernah cukup untuk gaya hidup. Nah jadi buat apa khawatir tentang masa depannya Shaka iya kan. Disini mulai dilema lagi nih, beberapa hari kerjaannya cuma ngeluh ke suami dan dia selalu jawab yang sama ”aku nggak pernah nyuruh kamu kerja dan nggak akan ngelarang kamu untuk berhenti kerja. Lakuin apa yang menurut kamu bener dan sesuai sama hati kamu. Kalau kamu tetep pengen kerja ya nggak apa – apa tapi pastiin Shaka nggak kurang kasih sayang. Keselamatan shaka, perkembangan Shaka selama orangtuanya nggak ada di rumah ya kita manage sebaik mungkin terus serahin sama Allah. Nining (nama mba di rumah) juga keliatannya baik kok dan telaten ngurus anak” udah jawabannya bikin adem. Tapi ya dasar emang gue mah orangnya pikiran, hal – hal negatif tuh terus aja muncul di otak. Misal nanti ada orang yang nyamar jadi sales perabotan rumah terus si mba dihipnotis lah, security yang kerjasama sama penculik anaklah atau bahkan pikiran gue yang terlalu jauh itu ya si mba yang polos ini dipacarin sama penculik anak buat nyulik Shaka. Duh Ya Allah amit-amit bangeeeetttt…

Tapi yasudahlah, bener kata suami yang penting perhatian ke Shaka nggak berubah dan gimana kita manage waktu sama Shaka karena kita nggak mungkin ngandelin si mba buat ngelatih Shaka ngomong dll. Jadilah sekarang di sela-sela kegalauan mulai browsing-browsing tentang MPASI, jadi silent reader di milis MPASI sampai ngajak ngobrol si mba tentang gimana ngasuh Shaka. Pada dasarnya sih gue bukan orang yang ribet ya, nggak mau juga gue ngebebanin si mba dengan segala pengaturan di rumah jadi ya selama yang ngurus Shaka ini sayang anak kecil, rajin dan nggak neko-neko sih dibikin santai saja.

Hem, yaudahlah semoga dilancarin deh kedepannya. Aamiin. Sekarang mah siap-siapin mental dulu aja buat beberapa hari kedepan, ninggalin Shaka dan mesti berkutat dengan dunia per-cargoan lagi. Haha

Bekasi, 20 Maret 2017

Virus Tokso itu menghampiri Adikku


Akhirnya setelah post pertama di tahun ini menetas dua hari yang lalu saya mulai aktif kembali menulis meski tidak di post secara umum. Entahlah, tapi rasanya selain mengadu pada yang di atas dan suami, menuangkannya dalam bentuk tulisan cukup melegakan hati.

Di atas adalah foto keluarga kecil saya. Papah, Mamah, dan ketiga adik saya. Orangtua saya memiliki 4 orang anak dengan jarak yang tidak cukup dekat. Pertama, saya yang dilahirkan di tahun 1993 dan 5 tahun kemudian lahir adik perempuan pertama saya. Namun ibu saya tidak cukup puas karena beliau mendambakan seorang anak laki-laki yang pada akhirnya hadir 3 tahun setelah adik perempuan saya lahir. Tahun 2009, tepatnya saat saya berumur 16 tahun keluarga kami kembali ramai dengan hadirnya adik perempuan kami (katanya, mamah tidak pernah pakai KB karna tidak cocok dan jadilah adik kami ini). Walau kehadirannya tidak diduga sama sekali, tapi ternyata bisa membuat keluarga kami makin ramai dan lebih hidup. Alhamdulillah.

Sedikit cerita untuk adik laki-laki saya satu satunya. Namanya Fadhil, nama lengkapnya Saadath Alfadhillah Gumilang. Adik saya ini lahir prematur di usia kandungan ibu saya masih 8 bulan. Menurut banyak orang, prematur di usia tersebut jauh lebih membahayakan dari usia 7 bulan, apa alasannya saya tidak tahu. Yang saya tahu, Fadhil ini dari sejak lahir sering kali masuk rumah sakit dan hingga usianya menginjak 6 bulan tidak pernah merespon siapapun yang ada di sekitarnya. Tidak pernah menangis atau tertawa, pandangannya pun tidak pernah fokus. Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata adik mengidap gejala autis. Sontak kami terkejut, terutama Mamah. Beliau terus menerus menangis dan banyak bertawakal pada Allah swt. Namun memang Kuasa Allah sangat besar, tidak berapa lama setelah itu Fadhil mengalami kejang-kejang. Sedikit lupa bagaimana saat itu, namun setelah kejadian tersebut Fadhil dinyatakan normal. Bisa tertawa, menangis dan merespon kami dengan sangat baik. Alhamdulillah, Fadhil seperti mukjizat bagi kami. Di saat orangtua khawatir karena anaknya kejang – kejang dan mengakibatkan si anak menjadi tidak normal, tetapi justru mukjizat yang datang kepada keluarga kami, adik kami Fadhil benar-benar menjadi normal. Ah rasanya bahagiaaa sekali.

Tahun demi tahun berlalu, sampai Fadhil akhirnya masuk SMA. Baru saja minggu pertama Fadhil merasakan bangku SMA-nya ia mengeluh bahwa pandangan matanya semakin menghitam seperti banyak ikan berenang di matanya, sontak kami sekeluarga kaget. Ibu saya tanpa pikir panjang langsung membawanya ke rumah sakit mata terkenal di Bandung dan Jakarta. Hasil pemeriksaan Fadhil sangat luar biasa mengejutkan, ternyata virus tokso di mata Fadhil kembali aktif. Ah saya lupa cerita, waktu SD Fadhil sempat dinyatakan terkena virus tokso di mata sebelah kanannya dan mengakibatkan ia tidak bisa melihat dengan jelas. Sedihnya adalah Fadhil sempat dibully oleh teman-teman sekolahnya. Duh, sebenarnya saya malas sekali menceritakan ini, karena saya super super menyayangi dia dan rasanya benci sekali apabila mengingat bagaimana ia dibully dulu. Singkat cerita, virus tokso tersebut dinyatakan telah hibernasi dan Insya Allah tidak akan mengganggu kesehatan Fadhil kembali. Tapi nyatanya rencana Allah tidak selesai sampai di situ.

Menginjak SMA, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya Fadhil kembali dinyatakan positif memiliki virus tokso dan setelah pemeriksaan lebih dalam hingga MRI dan check lab bisa disimpulkan bahwa virus Fadhil telah menyerang otak kanannya. Sedih? banget !! Lebih sedih lagi ketika dengan telinga saya sendiri saya mendengar dokter menjelaskan bahwa efek dari virus yang menyerang otak kanan tersebut mengakibatkan organ tubuh Fadhil sebelah kiri tidak bisa berfungsi dengan sempurna, alias stroke ringan. Parahnya lagi adalah kalau virus ini menjalar dengan cepat mungkin umur Fadhil ya… Wallahualam. Rasanya ingin menangis dan memeluknya. Ibu saya ? Ibu saya sangat tegar, walau begitu beliau seringkali menangis memikirkan Fadhil.

Saya seperti terkena tamparan berkali-kali ketika mengingat dulu Fadhil sering kali meminta saya atau adik saya yang satunya lagi membuka snack dia, katanya “tangan Fadhil lemes teh” dan saya juga adik saya cuma menanggapinya dengan “lebay banget sih Fadhil”. Kalau mengingat itu ko rasanya Ya Allah……………… sedih.. sedih.. sedih..

Tapi ini lah takdir Allah. Baik Ibu saya, Bapak saya juga saya menerima ini dengan ikhlas. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah terus menerus memberikan pengobatan yang terbaik untuknya, support yang tiada henti dan berusaha memberikan apa keinginan dia yang sebenarnya selalu dia simpan diam – diam. Kami percaya bahwa hidup dan mati di tangan Allah, begitu juga dengan kesembuhan Fadhil. Bukan tidak mungkin Fadhil akan sembuh total dan kami terus berdoa untuk hal itu. Semoga Allah mengabulkan doa kami. Aamiin.

 

*Fadhil saat ini menjalani homeschooling karena fisiknya tidak sekuat anak anak seumurannya, memang terlihat normal tapi sebenarnya Fadhil gampang sakit karena daya tahan tubuhnya kurang. Selain itu juga Fadhil ikut les musik di Purwacaraka, sebab menurut ibu saya Fadhil berkeinginan untuk menjadi penyanyi dan Ibu saya ingin menyenangkan dia. hihi semoga Fadhil senang yaaa.