SUAM (1)

Hai suam..

Eh salah, katamu aku harus membiasakan diri dengan “Assalamualaikum suam”

Oke..oke..aku turuti maumu, toh itu juga yang dianjurkan agama xixixixi, ngomong-ngomong sudah berapa lama sih kita menikah ? kok kayanya baru kemarin ya aku diajak pacaran sama kamu, di motor temen kamu itu loh di jalan menuju pulang dari tempat les kamu.

Sekarang…

Aku bukan lagi dibonceng di belakang kamu, tapi sudah tidur di samping kamu. Cieeeeee…. Pasti kamu seneng, iya kan ? ngaku aja deh suam xixixixi

Aku pun begitu..

Masih ingat di ingatanku hari pertama kita menikah, orang sih menyebutnya malam pertama dan kebetulan waktu itu aku lagi datang bulan alhasil kita ngobrol semalaman. Dari tempat tidur sampai pindah ke kursi samping jendela hotel yang waktu itu viewnya lumayan enak dipandang kamu berkali kali bilang “aku nggak nyangka bias nikahin kamu, ngajak pacaran kamu aja aku takut apalagi nikah”

Dan aku cuma bisa senyum sambil ngelus ngelus dagu kamu, aku suka dagu kamu hehe..

Kemudian keesokannya aku Bangun di pelukan kamu, kamu tau rasanya ? seperti mimpi hehe. Berkali kali aku berucap syukur dan (lagi – lagi) mengelus dagu kamu, aku bilang sama kamu waktu itu aku cinta kamu untuk yang pertama kalinya. Iya pertama kalinya setelah 6,5 tahun kita bareng – bareng (bukan tidur bareng ya -_-). Setelahnya, ku ajak kamu mengobrol dalam keadaan tidur, ya maksudnya kamu tidur dan aku ngajak kamu ngomong. Rasanya, lucu bikin geli di perut xixixi.

Dan sejak saat itu, ngajak kamu ngobrol di saat kamu tertidur pulas adalah hobi baru aku. Kamu tau kenapa ? karna aku bebas mengekspresikan sayangnya aku ke kamu tanpa kamu tau, karena aku malu hehe sampai sekarang.

Awalnya berjalan manis, sampai menginjak hari ketiga pernikahan kita dan kita pun mulai bertengkar. Pertengakaran pertama di pernikahan kita. Rasanya ? kesal tapi kemudian aku tersenyum dan berujar dalam hati “oh gini rasanya bertengkar setelah menikah, lucu ya”. Udah itu aja, dan kemudian aku melihatmu tidur dalam kesal, lagi – lagi dalam hati “kamu lucu kalau marah”. Iya sepolos itu aku menertawakan pertengkaran pertama kita setelah menikah.

Hari demi hari dan Bulan demi Bulan terus berjalan, ternyata semua tidak semudah yang ku bayangkan sebelumnya, aku tidak pernah berpikiran bahwa penikahan kita akan semulus itu hanya saja ternyata jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Ekonomi yang masih belum bisa aku handle dengan baik, syndrom menantu yang masih belum bisa aku hadapi sampai perbedaan pendapat antar kedua orangtua kita yang terus menerus menghantuiku. Aku cape, tapi aku tau kamu lebih pusing menghadapi semua ini karena kamu selalu merasa semua ini adalah tanggung jawabmu.

Aku Cuma berdoa supaya Allah meringankan beban kita dan memudahkan segala niat baik kamu untuk kehidupan kita. Alhamdulillah, Allah memang Maha Pemurah dan aku menyaksikan bagaimana Allah bekerja untuk itu.

Ini masih bulan ke-8 di pernikahan kita, kalau infotainment selalu bilang ya pernikahan yang masih seumur jagung. Mungkin kalau di kita, jagung muda yang kecil – kecil itu kali ya hahahaha. Kamu tau? Aku masih terkagum – kagum lho sama pikiran kamu, nggak nyangka aja orang nyata di lingkungan aku bisa punya pikiran sedewasa itu di saat umur kamu harusnya masih memikirkan senang – senang dan main dengan teman. Mungkin kamu bukan yang pertama dan banyak anak muda lainnya atau bahkan lebih muda dari kamu tapi juga jauh lebih dewasa dari kamu, tapi ini kamu lho suam, orang terdekat aku saat ini dan aku masih amaze. Hehehe

Aku selalu tertarik bagaimana kamu berpendapat, bagaimana kamu merancang masa depan kita sampai aku merasa hanya perlu menambahkan ‘bumbu’ di dalamnya.

Gini ya rasanya menikah hehehehe

Tidak selalu bikin aku kagum sih ngomong – ngomong haha, karena kamu masih aja bikin aku kesal (selalu sih sejujurnya). Iya.. kamu terlalu keras dan honestly aku masih bingung ngadepin kamu. Kamu masih ngeyel terhadap sesuatu yang kamu anggap benar, padahal kan aku punya buktinya itu salah L atau kamu masih suka ngerokok di kamar mandi, kan aku nggak suka L satu lagi, kamu selalu pakai boxer di kamar kan aku geliiii L hahahaha aku masih risih gitu ngeliat kamu telanjang dada ehehehehehehe padahal udah liat kamu tanpa apa-apa (lhoo) wakakakaka..

Ya pokoknya pernikahan ini mengajariku banyak hal, dari yang awalnya aku berusaha untuk ngomong sama diri sendiri bahwa aku harus kuat menghadapi kurangnya kamu, sampai sekarang aku berpikiran bahwa bagaimanapun kamu ya kamu itu suamiku paket lengkap dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Dari yang dulu bilang sama diri sendiri “yang sabar nindy, yang sabar” sampai sekarang bilang “ayo nindy kamu juga punya kekurangan, suami kamu juga udah sabar banget ngadepin kamu”.

Ternyata ini semua tentang ‘”setiap orang ditakdirkan dengan kelebihan dan kekurangan, bagaimana kamu menghadapinya begitulah kamu hidup” . Ngerti nggak ? ya intinya, kalau aku lagi dengerin kamu ‘ceramah’ aku selalu ambil positif side nya, meski sebenarnya maksud kamu nggak kesitu. Jadi ya lebih ke bagaimana cara pandang aku dalam menghadapi sesuatu sih. Seperti misalnya kamu yang suka makanan dingin sementara aku makanan dalam keadaan panas, awalnya aku ngerasa kerepotan karena harus ngatur sedemikian rupa. Tapi lama lama aku sadar sih, kalau aku lagi ngerasa makanan aku terlalu panas aku tinggal mix sama punya kamu biar jadi lebih hangat atau kamu lagi pengen yang hangat – hangat kamu tinggal mix sama punya aku. Sesederhana itu positif side aku suam! Hahaha

Masih banyak hari yang kita hadapin ya, masih tersisa bulan demi bulan dan tahun demi tahun untuk ngabisin waktu sama kamu dan aku terlalu excited, nggak sabar rasanya ngelahirin anak yang ada di kandungan aku kemudian sama sama ngurusin dia yang masih bayi dan bikin kita bergadang sampai aku bahkan kepikiran nanti TK dimana, SD dimana sampai kuliah pun dimana.

Dan aku pengen ngabisin waktu dengan merencanakan itu semua sama kamu, suami aku.

Semoga Allah memberikan kita umur panjang ya suam, dan semoga Allah memberikan keluarga kita kemudahan dan kebahagiaan. Amin.

Jakarta, 17 Juni 2016

*Tulisan ini dibuat di tahun 2016, hanya sekedar curhat biasa sebenarnya dan jadi koleksi pribadi tapi kayanya nggak apa apa ya untuk sekedar berbagi, yah belum tentu juga ada yang baca xoxo*

Virus Tokso itu menghampiri Adikku


Akhirnya setelah post pertama di tahun ini menetas dua hari yang lalu saya mulai aktif kembali menulis meski tidak di post secara umum. Entahlah, tapi rasanya selain mengadu pada yang di atas dan suami, menuangkannya dalam bentuk tulisan cukup melegakan hati.

Di atas adalah foto keluarga kecil saya. Papah, Mamah, dan ketiga adik saya. Orangtua saya memiliki 4 orang anak dengan jarak yang tidak cukup dekat. Pertama, saya yang dilahirkan di tahun 1993 dan 5 tahun kemudian lahir adik perempuan pertama saya. Namun ibu saya tidak cukup puas karena beliau mendambakan seorang anak laki-laki yang pada akhirnya hadir 3 tahun setelah adik perempuan saya lahir. Tahun 2009, tepatnya saat saya berumur 16 tahun keluarga kami kembali ramai dengan hadirnya adik perempuan kami (katanya, mamah tidak pernah pakai KB karna tidak cocok dan jadilah adik kami ini). Walau kehadirannya tidak diduga sama sekali, tapi ternyata bisa membuat keluarga kami makin ramai dan lebih hidup. Alhamdulillah.

Sedikit cerita untuk adik laki-laki saya satu satunya. Namanya Fadhil, nama lengkapnya Saadath Alfadhillah Gumilang. Adik saya ini lahir prematur di usia kandungan ibu saya masih 8 bulan. Menurut banyak orang, prematur di usia tersebut jauh lebih membahayakan dari usia 7 bulan, apa alasannya saya tidak tahu. Yang saya tahu, Fadhil ini dari sejak lahir sering kali masuk rumah sakit dan hingga usianya menginjak 6 bulan tidak pernah merespon siapapun yang ada di sekitarnya. Tidak pernah menangis atau tertawa, pandangannya pun tidak pernah fokus. Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata adik mengidap gejala autis. Sontak kami terkejut, terutama Mamah. Beliau terus menerus menangis dan banyak bertawakal pada Allah swt. Namun memang Kuasa Allah sangat besar, tidak berapa lama setelah itu Fadhil mengalami kejang-kejang. Sedikit lupa bagaimana saat itu, namun setelah kejadian tersebut Fadhil dinyatakan normal. Bisa tertawa, menangis dan merespon kami dengan sangat baik. Alhamdulillah, Fadhil seperti mukjizat bagi kami. Di saat orangtua khawatir karena anaknya kejang – kejang dan mengakibatkan si anak menjadi tidak normal, tetapi justru mukjizat yang datang kepada keluarga kami, adik kami Fadhil benar-benar menjadi normal. Ah rasanya bahagiaaa sekali.

Tahun demi tahun berlalu, sampai Fadhil akhirnya masuk SMA. Baru saja minggu pertama Fadhil merasakan bangku SMA-nya ia mengeluh bahwa pandangan matanya semakin menghitam seperti banyak ikan berenang di matanya, sontak kami sekeluarga kaget. Ibu saya tanpa pikir panjang langsung membawanya ke rumah sakit mata terkenal di Bandung dan Jakarta. Hasil pemeriksaan Fadhil sangat luar biasa mengejutkan, ternyata virus tokso di mata Fadhil kembali aktif. Ah saya lupa cerita, waktu SD Fadhil sempat dinyatakan terkena virus tokso di mata sebelah kanannya dan mengakibatkan ia tidak bisa melihat dengan jelas. Sedihnya adalah Fadhil sempat dibully oleh teman-teman sekolahnya. Duh, sebenarnya saya malas sekali menceritakan ini, karena saya super super menyayangi dia dan rasanya benci sekali apabila mengingat bagaimana ia dibully dulu. Singkat cerita, virus tokso tersebut dinyatakan telah hibernasi dan Insya Allah tidak akan mengganggu kesehatan Fadhil kembali. Tapi nyatanya rencana Allah tidak selesai sampai di situ.

Menginjak SMA, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya Fadhil kembali dinyatakan positif memiliki virus tokso dan setelah pemeriksaan lebih dalam hingga MRI dan check lab bisa disimpulkan bahwa virus Fadhil telah menyerang otak kanannya. Sedih? banget !! Lebih sedih lagi ketika dengan telinga saya sendiri saya mendengar dokter menjelaskan bahwa efek dari virus yang menyerang otak kanan tersebut mengakibatkan organ tubuh Fadhil sebelah kiri tidak bisa berfungsi dengan sempurna, alias stroke ringan. Parahnya lagi adalah kalau virus ini menjalar dengan cepat mungkin umur Fadhil ya… Wallahualam. Rasanya ingin menangis dan memeluknya. Ibu saya ? Ibu saya sangat tegar, walau begitu beliau seringkali menangis memikirkan Fadhil.

Saya seperti terkena tamparan berkali-kali ketika mengingat dulu Fadhil sering kali meminta saya atau adik saya yang satunya lagi membuka snack dia, katanya “tangan Fadhil lemes teh” dan saya juga adik saya cuma menanggapinya dengan “lebay banget sih Fadhil”. Kalau mengingat itu ko rasanya Ya Allah……………… sedih.. sedih.. sedih..

Tapi ini lah takdir Allah. Baik Ibu saya, Bapak saya juga saya menerima ini dengan ikhlas. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah terus menerus memberikan pengobatan yang terbaik untuknya, support yang tiada henti dan berusaha memberikan apa keinginan dia yang sebenarnya selalu dia simpan diam – diam. Kami percaya bahwa hidup dan mati di tangan Allah, begitu juga dengan kesembuhan Fadhil. Bukan tidak mungkin Fadhil akan sembuh total dan kami terus berdoa untuk hal itu. Semoga Allah mengabulkan doa kami. Aamiin.

 

*Fadhil saat ini menjalani homeschooling karena fisiknya tidak sekuat anak anak seumurannya, memang terlihat normal tapi sebenarnya Fadhil gampang sakit karena daya tahan tubuhnya kurang. Selain itu juga Fadhil ikut les musik di Purwacaraka, sebab menurut ibu saya Fadhil berkeinginan untuk menjadi penyanyi dan Ibu saya ingin menyenangkan dia. hihi semoga Fadhil senang yaaa.