HAI KAMU…

Hai kamu.. lama rasanya tidak menulis surat cinta untukmu,  seperti 2 tahun yang lalu saat kamu mengucapkan ‘selamat hari jadi ke 3 tahun sayang’..

Jadi ingat saat itu kubeli kertas dan amplop bergambar di salah satu toko buku dengan maksud ingin memberikan sesuatu yang spesial untukmu. Ah tapi dasar aku bukanlah seseorang yang romantis, bukannya surat cinta yang kubikin taoi hanyalah sebuah surat berisi gambar gambar jelek yang menceritakan aku dan kamu setelah 3 tahun bersama.

Hai kamu.. sesungguhnya bukan itu yang ingin aku sampaikan, hari ini 5 Februari 2014, 1 bulan 23 hari menjelang hubungan kita yang menginjak tahun ke 5 rasanya banyak sekali yang ingin kusampaikan. Hampir 5 tahun sudah kita bersama, melewati indahnya masa – masa SMA dan kuliah walau pada akhirnya jarak dan waktu memisahkan kita selama 3 tahun terakhir ini.

Hai kamu.. ingin rasanya aku menangis sekencang kencangnya dalam pelukanmu, merasakan hangatnya kasih sayangmu dan belaian halus di kepalaku. Sayangnya kita belum muhrim. Tapi bukan itu masalahnya, apa yang kita hadapi selain ‘ke – halal -an’ adalah jauh lebih berat dari apa yang kita lihat. Sepertinya perbedaan prinsip maupun adat antara 2 keluarga masih susah untuk disatukan. Bolehkah aku angkat tangan atas hal ini ?

Hai kamu.. orang bilang ini adalah antara aku dan kamu bukan tentang mereka. Tapi, bukankah janjiku untuk menyayangimu adalah berarti janjiku untuk menyayangi dan menerima keluargamu? Bukankah janjimu untuk mencintaiku adalah berarti untuj mencintai dan menerima keluargaku juga ?

Hai kamu.. setelah hampir 5 tahun berjalan kenapa hal ini terus muncul lalu tenggelam layaknya sesuatu yang muncul karena ingin ‘di – muncul – kan’.

Hai kamu.. waktu itu seminggu sebelum 1 april 2009, tepatnya seminggu sebelum kamu menyatakan ‘pernyataan cinta ABG’ – mu padaku. Kamu bilang saat itu ‘senyumlah, setidaknya untukku’, kamu bilang saat itu ‘jangan menangis, ada aku disini yang akan selalu ada untuk kamu’ terdengar klise memang, tapi taukah kamu bahwa 2 kalimat itu menambah kekuatanku untuk terus bertahan dalam semua ini.

Hai kamu.. maafkan aku apabila suatu saat nanti aku lantas menyerah untuk kita. Tapi patut untuk kamu ketahui bahwa aku menyayangimu, kuserahkan rasa ini pada – Nya yang telah menciptakan aku dan kamu hingga akhirnya bisa bertemu dan menjadi ‘kita’ bukan aku atau kamu lagi. Kelak, apabila diri – Nya menentukan kamu untuk menjadi pendampingku di waktu yang akan datang aku percaya tidak ada yang sia – sia. Sama seperti aku yang menyayangimu selama ini walaupun aku harus siap dan ikhlas untuk melepas ‘kita’ dan berbicara hanya tentang ‘aku’.